Jumat, 11 April 2014

[Recap] New Tales Of Gisaeng Episode 22

-EPISODE 22-
Buyonggak


Da Mo terkejut mendengar ucapan Gong Joo jika Sa Ran memilih menjadi seorang Gisaeng. Bagaimana mungkin seorang Sa Ran memilih melakukannya, apa dia masih berpikir jernih? Dengan terburu-buru Da Mo menyetir mobil tanpa memperdulikan mobil lainnya yang melintas. Da Mo bahkan tidak memperdulikan bahaya yang mengancamnya karena yang terpenting baginya sekarang adalah menemui Sa Ran.
Joo Hee berpamitan kepada ibu mertuanya
“Ibu, aku akan kembali bertemu denganmu” ucap Joo Hee
“tidak perlu mengkhawatirkan kami, hiduplah dengan baik. Saat anda menjadi menantu keluarga Geum anda sudah banyak menanggung beban dan juga sudah merawat Ra Ra dengan sangat baik. Anda terlibat dalam banyak masalah, jangan memutuskan kontak dengan Ra Ra” ucap Nenek Ra Ra
“aku berharap Eo San akan bertemu wanita yang baik nanti. Apakah Ibu masih marah denganku?” tanya Joo Hee
“awal kehidupan hingga pertengahan hidupku semuanya baik-baik saja tetapi di umurku yang sekarang ini aku merasa bersedih. Aku berharap berita yang baik tentangmu”

Da Mo tiba di Buyonggak. Digedornya pintu yang terbuat dari kayu dan terlihat sangat kokoh “apakah ada orang disini? Siapa saja” teriak Da Mo dan muncullah seorang pria memakai setelan jas berwarna hitam membuka pintu untuk Da Mo. “apa Dan Sa Ran ada di dalam?katakan padanya aku Ah Da Mo” ucap Da Mo namun pria tersebut menjawab jika Da Mo tidak bisa seenaknya bertemu dengan penghuni Buyonggak tanpa izin dari Pimpinan.
Da Mo tentu saja tak kehabisan akal dan memberikan beberapa lembar uang kepada pria tersebut agar bisa bertemu dengan Sa Ran. Sayang Sa Ran tetap tidak ingin menemuinya dan meminta kepada ahjussi penjaga Buyonggak untuk menyuruhnya pergi. Mendengar jawaban yang tidak bisa diterimanya, Da Mo memilih menerobos masuk ke dalam.

Tindakan Da Mo berhasil membuat ahjussi penjaga Buyonggak dan juga Dan Se serta Bong Yi kewalahan. Mereka yang awalnya berhasil menahan Da Mo harus takluk dengan kelincahan Da Mo melepaskan diri dan berlarian ke seluruh penjuru Buyonggak mencari Sa Ran.
“apa yang kamu lakukan disini? Apa kamu gila? Apa kamu tahu dimana sekarang kamu berada? Ayo pergi, ayo pergi!!!” ucap Da Mo ketika berhasil menemukan tempat Sa Ran bersembunyi. “apa kamu mendengarkanku?” teriak Da Mo ketika para penjaga Buyonggak berhasil membawanya pergi dan Sa Ran sama sekali tidak melakukan apa-apa untuk mencegahnya.

Da Mo sekarang berada di dalam mobilnya… kesal, marah, jengkel semuanya berbaur menjadi satu. Selain karena tidak bisa berbicara dengan Sa Ran, Da Mo juga menyesalkan kenapa Sa Ran memilih menjadi Gisaeng dan menolak tawaran yang pernah diajukan untuknya.

Ia benar-benar berani memikirkan bekerja sebagai seorang Gisaeng

Ra Ra mengajak Neneknya makan siang di luar. Makan makanan manis misalnya saja waffle dan juga disertai dengan minum kopi adalah salah satu cara terampuh untuk mengusir kesedihan bagi Ra Ra namun sepertinya hal tersebut tak jua membuat Neneknya berangsur membaik. Nenek bertanya apa Ra Ra tidak bersedih dan dijawab Ra Ra jika awalnya memang iya, tapi melihat Sa Ran, Ra Ra berusaha tidak mengeluh dan menjalani semuanya. Nenek kembali bertanya ada apa dengan Sa Ran? Dan dijawab Ra Ra dengan sedikit kebohongan jika Sa Ran sedang mengalami masalah keuangan.

Jika Nenek tahu Sa Ran ke Buyonggak untuk menari dia pasti akan mencarinya dan pasti akan mengganggu Sa Ran.

Masalah kekacauan yang dibuat Da Mo sampai juga ke telinga Do Hwa yang baru saja pulang dari bepergian. Do Hwa kemudian menelepon Da Mo (Da Mo menitipkan nomor Hpnya sesaat sebelum pergi pada ahjussi yang telah membantunya) dan menyuruhnya datang ke Buyonggak berbicara dengan Sa Ran tepat di hadapannya. Da Mo yang masih berada di sekitar Buyonggak dengan cepat mengiyakan.
Da Mo memberi hormat pada Do Hwa dan memandangi Sa Ran yang tak menghiraukan kedatangannya, bahkan terkesan mengacuhkannya. Do Hwa mempersilahkan ke dua mantan kekasih tersebut berbicara dan memutuskan menjadi pendengar saja. Da Mo memulai pembicaraan dan kali ini Sa Ran menatapnya. Yang diinginkan Da Mo adalah agar Sa Ran keluar karena baginya Buyonggak adalah tempat yang sangat berbahaya. Bukannya impian Sa Ran menjadi penari? Jika memang Sa Ran membutuhkan uang kenapa tak menerima tawarannya. Sa Ran sekali lagi dengan tegas mengatakan jika dirinya sama sekali tidak membutuhkan uang Da Mo. Sa Ran juga sudah mengingatkan jika dirinya sekarang bukanlah siapa-siapa bagi Da Mo. Hubungan mereka sudah berakhir dan tidak akan menjadi kakak adik seperti yang diinginkan Da Mo.
“sepertinya cintanya sangat dalam, mengapa kalian bisa putus?” tanya Do Hwa begitu Da Mo pergi
“itu bukan cinta tapi keegoisan” jawab Sa Ran.
Nenek memanggil Eo San untuk berbicara. Nenek akhirnya mengatakan jika alasan dirinya tiba-tiba tidak menyukai Joo Hee karena Joo Hee memiliki pria idaman lain. Nenek juga sudah mengetahui jika yang mengajukan gugatan pertama kali adalah Joo Hee. Pembicaraan mereka kemudian beralih pada Soon Duk. Nenek bertanya apa Eo San masih menemui Soon Duk dan dijawab Eo San iya. Kemarahan yang sempat mereda kembali berkobar. Bukannya dirinya sudah memperingatkan agar Eo San tak menemui lagi wanita yang sudah menjadi penyebab suaminya meninggal….
Malam harinya
Do Hwa melaporkan kejadian siang tadi pada Hwa Ran. Hwa Ran tentu saja terkejut mendengarnya.
Sesampainya di rumah, amarah dan kekesalan Da Mo belum juga reda. Da Mo bahkan meninju lemari pakaiannya yang terbuat dari kayu hingga membuat sebuah lubang. Da Mo berpikir jika keputusan Sa Ran masuk ke Buyonggak adalah karena dirinya. Kesedihan akibat putus dengan dirinya membuat Sa Ran nekat dan berbuat hal yang tak masuk akal dan bahkan bisa dikatakan gila.
Fakta yang sebenarnya justru tak diketahui oleh Da Mo. Sa Ran adalah wanita kuat dan bahkan sangat kuat…. Sa Ran masih bisa bertahan jika harus berpisah atau melihat Da Mo menikah dengan wanita lain, namun kenyataan jika dirinya adalah anak adopsi benar-benar membuatnya terpuruk.

Dan Sa Ran, kamu jauh lebih baik dari yang aku harapkan. Tidak perduli seberapa banyak aku berpikir, aku masih tidak mengerti tentangmu. Membiarkan aku menjadi penasaran kemudian perduli dan menghubungimu. Awalnya aku berpikir kamu ingin menjaga harga dirimu dan tidak dapat melupakanku, membujukku untuk kembali lagi. Setelah beberapa waktu bergelut dalam kesedihan akhirnya memutuskan masuk ke Buyonggak. Aku benar-benar tidak berharap kamu ke tempat itu, baiklah aku akan mengikuti permainanmu. 

Para penghuni Buyonggak terus saja membicarakan masalah yang sempat membuat heboh tadi siang. Ahjussi Dan Se misalnya yang menilai Da Mo dari penampilanya mengambil kesimpulan jika Da Mo adalah bukan orang biasa dan anak chaebol. Sedangkan menurut Bong Yi, Da Mo bukanlah typical orang yang mudah menyerah dan akan terus menemui Sa Ran.

Dan benar saja, keesokan harinya Da Mo kembali datang ke Buyonggak dan kali ini menemui Hwa Ran. Da Mo meminta Hwa Ran agar membiarkan Sa Ran pergi. Da Mo akan mengganti semua uang yang telah dikeluarkan Hwa Ran.
“lalu apa yang akan dilakukannya begitu dia keluar?” tanya Hwa Ran
“aku akan mencarikan pekerjaan yang cocok untuknya”
“di dunia ini ada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang misalnya kasih sayang. Aku sudah merasakan banyak kasih sayang terhadap anak itu bahkan jika anda memberiku uang bagaimana dengan rasa sayangku padanya?” tanya Hwa Ran
“Dan Sa Ran ingin menjadi penari dan aku harap anda membantuku”
“apakah anda menyukai Sa Ran?”
“ya”
“apakah anda mencintainya?” tanya Hwa Ran lagi dan Da Mo terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab
“ya, aku mencintainya seperti adik perempuanku”
“sepertinya anda tidak menginginkannya tetapi tidak ingin dia dimiliki orang lain. Aku tidak suka mencampuri kehidupan orang lain” ucap Hwa Ran dan mengakhiri pembicaraan kali ini.
Hwa Ran memanggil Sa Ran dan bertanya tentang Da Mo. Da Mo adalah anak orang kaya kenapa Sa Ran tidak bersamanya saja? Jawaban yang selama ini disimpan Sa Ran akhirnya terucap juga, Da Mo lah yang meminta putus pertama kali.

Hyo Ri dan Kang San mengunjungi rumah Ibu mereka. Nenek Ra Ra sedikit kecewa kepada ke 2 anaknya tersebut karena sudah memberitahukan kepada Ra Ra kenyataan yang sebenarnya tanpa membicarakannya dengan anggota keluarga lain. Pembicaraan mereka beralih pada masalah perceraian Eo San dan Joo Hee. Awalnya Hyo Ri sedikit terkejut namun inilah kesempatannya untuk meminta Ra Ra kembali ke rumahnya karena tidak ada lagi alasan Ra Ra untuk tetap berada di rumah Eo San.
Ra Ra tentu saja menolak, walaupun Hyo Ri adalah ibu yang sudah melahirkannya tetapi Eo San dan Joo Hee lah yang sudah membesarkannya… sama seperti ucapan yang pernah dikatakan pada Joo Hee, Ra Ra tidak akan kemana-mana dan akan merawat Ayah dan Neneknya. Bahkan jika Ayahnya ingin menikah lagi, tak masalah bagi Ra Ra.
Nenek mendatangi kamar Eo San dan juga Joo Hee. Dulu di meja rias tersebut tertata banyak kosmetik milik Joo Hee… di dalam lemari tersusun rapi baju Joo Hee tapi sekarang kamar tersebut terlihat sangat sepi.
Malam harinya
Sa Ran bersiap-siap hendak keluar. Jepit rambut pemberian Da Mo dikenakannya. Saat mobil yang dikendarainya berhenti di tepian sungai Han, Sa Ran segera turun dan menemui pria yang sedaritadi sudah menunggunya. Hwa Ran mengizinkannya bertemu dengan pria tersebut guna menyelesaikan masalah yang masih membelit diantara mereka.
Sa Ran memperlihatkan jepitan rambut yang melekat di rambutnya dan membuat pria yang sekarang berdiri di hadapannya terdiam sesaat.
“apakah orang tuamu setuju?” tanya Da Mo
“ya”
“aku ingin kamu keluar dari tempat itu” pinta Da Mo
“permintaan terakhirku, jangan ikut campur urusanku lagi”
“jika kanu menjadi aku apa kamu tidak meras terganggu, seolah-olah kita tidak saling mengenal satu sama lain. Kita berinteraksi dengan baik bersama-sama sebelumnya bukan? Aku minta maaf”
“karena kamu tidak bisa membantuku jangan merasa malu lagi, apa kamu tidak mengenal kepribadianku” ucap Sa Ran dan sedaritadi sejak awal berbicara, Sa Ran tidak menatap Da Mo sedetikpun.
“pertama mengundurkan diri terlebih dahulu, selanjutnya aku yang akan mengurusnya” bujuk Da Mo lagi
“aku tidak tertarik”
“kamu berpikir kamu akan sukses? Sukses hanya di meja sebagai pemilik minuman keras? (Sa Ran berbalik menatap Da Mo dengan tajam) apa kamu tahu arti gisaeng? Apa kamu sudah memikirkan semuanya sebelumnya?”
“sekarang dan selanjutnya berbeda”
“apakah kamu sudah memasuki ruangan penghibur?”
“aku akan memulainya minggu depan. Hidup dengan cara seperti ini adalah takdirku”
“apakah kamu masih memiliki perasaan terhadapku?”
“apa kamu tidak bisa mengetahuinya dengan melihat ekpresiku?”
“lalu mengapa kamu memintaku membelikanmu jepit rambut? Mengapa kamu memakainya?”
Sa Ran tertawa mengejek “aku akan memberitahumu jika kamu sudah salah. Aku memintamu membelikannya adalah agar setiap kali aku melihat jepit rambut ini akan mengingatkanku tentang keegoisan seorang lelaki. Aku tidak akan tergila-gila ataupun tenggelam dalam cinta pada seorang lelaki manapun. Aku sengaja melakukannya bukan karena aku tidak bisa membelinya. Jangan terpaku pada pikiran, aku ingin menjadi seorang penari. Ambil uangmu dan datanglah ke Buyonggak sebagai gantinya, aku akan dengan senang hati menemanimu” ucap Sa Ran tegas. Da Mo mengangkat tangannya berniat untuk memukul Sa Ran karena ucapannya yang terlewat batas namun segera diurungkannya niatan tersebut.
“apakah ini satu-satunya pilihanmu?” tanya Da Mo mulai putus asa “aku mohon jangan seperti ini, jebal. Kamu hanya terlalu baik dan jujur”
“orang-orang selalu bisa berubah. Ini adalah takdirku dan mengapa aku harus menyalahkan orang lain?”
“lalu dengarkan aku. Jika kamu seperti ini, aku merasa tidak bisa melakukan apa-apa” ucap Da Mo sedih dan berusaha menahan air matanya yang terus memberontak untuk keluar
“lalu tidak akan menikah dan mempengaruhi pekerjaanmu juga? Pada akhirnya kamu hanya memikirkan dirimu sendiri, hanya agar dirimu nyaman dan orang mendengarkanmu. Bukankah itu terlalu banyak? Apa kamu tidak mengerti dirimu sendiri?”
“apa ada yang salah? Bukankah aku sudah mengatakan akan membantumu?”
“tidak ada lagi yang harus dikatakan” ucap Sa Ran dan berbalik pergi. Da Mo berusaha menghentikan Sa Ran dengan menarik tangannya dan menggenggamnya erat hingga Sa Ran tak bisa melepaskan diri
“lalu bagaimana jika mereka mencoba merebut pergelangan tanganmu?”
“sejauh yang aku ketahui itu tidak apa-apa kecuali mereka memelukku dengan perasaan” jawab Sa Ran dengan tatapan mata tajam. Da Mo kemudian menampar Sa Ran tanpa memikirkannya terlebih dahulu dan Sa Ran balik menampar Sa Ran.
“bukankah kamu mengatakan hanya dengan memelukmu kamu bisa memiliki perasaan?” teriak Da Mo dan berusaha memeluk Sa Ran erat namun Sa Ran berhasil melepaskan diri dan kembali menampar Da Mo hingga 2 kali.
“bawalah uang dan cari aku, maka aku akan bertemu denganmu” ucap Sa Ran dan kali ini benar-benar pergi. Da Mo hanya bisa menatap punggung Sa Ran yang mulai menjauh. Tidak ada yang bisa dilakukannya, apakah semua ini akhir dari kisah mereka berdua?
Keesokan harinya
Gong Joo mendatangi Buyonggak. Dirinya sangat merindukan Sa Ran, kakaknya. Sejak kakaknya masuk ke Buyonggak sejak saat itu Gong Joo tak pernah bertemu dengannya. Gong Joo beruntung, karena Sa Ran baru saja kembali dari berenang.
“aku rindu pada kakak, aku khawatir denganmu” ucap Gong Joo dan berusaha menahan tangisannya. Gong Joo kemudian memberikan kue kepada Sa Ran dan bertanya apa Sa Ran tidak bisa pulang pada hari ulang tahunnya? Dan dijawab Sa Ran tergantung situasi dan kondisi nantinya.
Sa Ran berusaha menahan tangis saat memakan kue yang dibawa Gong Joo. Ingin rasanya Sa Ran keluar dari tempat ini dan kembali ke kehidupannya sebelumnya tetapi semuanya tidak mungkin.
Hwa Ran mendatangi kediaman Ra Ra untuk bertemu dengan Nenek Ra Ra. Hwa Ran sempat berbincang-bincang dengan Ra Ra mengenai Sa Ran sebelum akhirnya bertemu dengan Nenek. Ra Ra meminta tolong kepada Hwa Ran agar jangan memberitahukan masalah Sa Ran pada Nenek, karena nanti Neneknya bisa marah mendengarnya.
Da Mo menghabiskan waktunya dengan minum-minum…. Da Mo meminta tolong kepada temannya untuk mereservasi tempat di Buyonggak dan dirinya hanya ingin dilayani oleh Sa Ran.
Eo San lagi-lagi mengunjungi kediaman Soon Duk. Jika biasanya Eo San hanya melihat dari kejauhan, kali ini Eo San memilih berkunjung ke dalam rumah. Eo San bercerita jika Joo Hee sudah pergi dari rumahnya. Eo San juga menjelaskan jika ibunya sedikit membenci Soon Duk namun mereka berdua akan meluluhkan hati sang Ibu bersama-sama. Mereka berdua akan menemukan anak mereka yang hilang bagaimanapun caranya.

Cinta antara 2 orang tidak memerlukan syarat, cukup untuk mencintai…. Hanya ingin bersama saja. Jika ada alasan lain maka itu bukanlah cinta sejati.

Tiba akhinya bagi Sa Ran untuk tampil di ruang penghibur. Sekali lagi Sa Ran mendapatkan petuah dari Do Hwa. Da Mo sendiri masih sibuk bertemu dengan gadis-gadis yang akan dijodohkan dengannya namun tidak ada satupun yang bisa menyentuh hatinya seperti Sa Ran.
Ini pertama kalinya Sa Ran menari sebagai Gisaeng. Dulu Sa Ran biasanya menari di depan Nenek Da Mo yang telah tiada ataupun berlatih bersama teman-temannya…. Kenangan akan keputusannya saat mendatangi Buyonggak untuk menjadi Gisaeng, mengunjungi makam ibunya, dibelikan jepit rambut oleh Da Mo, Saat Gong Joo mencegahnya pergi semuanya kembali diingatnya.
Do Hwa memberi kode atau aba-aba apa yang seharusnya dilakukan Sa Ran. Menjadi Gisaeng untuk pertama kalinya dalam hidupnya jelas membuat Sa Ran canggung. Bukan hal yang mudah untuk melakukannya.
Kang San memutuskan menemui Son Ja

=BERSAMBUNG=

NB : Buat sahabat semua, jongmal kamsahamnida untuk support dan semangatnya^^ 

12 komentar:

  1. Damo bnr2 mnyebalkan.
    Makasi kk buat sinop nya. :)

    BalasHapus
  2. bacanya sediiiiiih bgtz kakaa huaaaaa T-T.....
    poor saran
    semangat terus y k untuk lanjutin sinopsisny,, g sabar nunggu kelanjutanny...
    unnie fighting ...

    BalasHapus
  3. Ikut esmosi ngeliat (baca) pertengkaran Sa Ran dan Da Mo. Bener-bener deh Da Mo ga peka perasaannya.
    Lanjutkan Chingu!
    Dan... Fighting!!!!

    BalasHapus
  4. Lanjutkan kak sinopsisnyaa!! semangatt kak dewi!!!

    BalasHapus
  5. Ka cahyo,ya jgn sampai berhenti bikin sinopsisnya walau episodenya panjang

    BalasHapus
  6. Thanks for sinopsisnya
    Cepet dilanjut ya kak dewi:-)
    fighting!!

    BalasHapus
  7. Makasih k sinopsisx,ditunggu lanjutan sinopx,Semangat yaa..

    BalasHapus
  8. Bener2 mengharu biru
    jd sungja saudara ra ra

    BalasHapus
  9. Saya hanya nonton mulai episode 40-52..dg membaca sinopsisnya sy merasa terbawa ke dalam ceritanya nya..tks

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...