Sabtu, 11 Juni 2011

Hadiah Paling Berharga Untuk Abdul

Catatan ini bersumber dari Renungan dan Motivasi : Ifta Istiany Notes .


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

==================================

Abdul baru saja mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari sebuah kotak yang dapat mengubah sudut pandangnya akan berharganya arti sebuah waktu.

Ia membuka sebuah kotak yang berlapis keemasan dan ia dapati didalamnya sesuatu yang sangat berharga juga sepucuk surat cinta yang sangat berkesan.

***

Waktu kecil Abdul tinggal bersama Ibunya di sebuah kota kecil. Ia bertetangga dengan seorang duda yang istrinya sudah meninggal. Duda itu bernama Pak Ali, ia tidak mempunyai anak dan hanya tinggal sendiri. Tiap harinya Abdul ditemani oleh Pak Ali, kemana pun Abdul pergi selalu ditemani oleh Pak Ali, apapun keinginannya yang tak terpenuhi oleh Ibunya Abdul, pak Ali selalu memenuhi keinginan Abdul. Pak Ali amat menyayangi Abdul seperti anak kandungnya sendiri,

Pria malang itu bersama Abdul semenjak Abdul bertumbuh dari seorang anak-anak, sampai dewasa, lulus dari kuliah, lalu bekerja dan menikah.

Setelah bekerja dan menikah di luar kota, ia tidak lagi tinggal di sebelah rumah pria itu. Abdul tak lagi ada waktu untuk Pak Ali, ia selalu sibuk akan pekerjaannya sehingga ia tak bisa lagi untuk bersama-sama Pak Ali, Abdul memanglah seorang pekerja keras yang gila kerja. Ia bahkan tidak ada waktu untuk anak dan istrinya.

Suatu hari Abdul mendapat telepon dari ibunya,

“Assalamu’alaikum Nak kau ingat Pak Ali? Ia meninggal dunia hari ini, dan Pemakamannya besok, Ibu harap kau bisa hadir saat hari pemakam”

Abdul terdiam kenangan masa kecilnya berseliweran dalam dirinya. Ia mengenang kembali masa-masa kecilnya dengan Pak Ali.

“Halo?” suara ibunya membangunkannya.

“Iya bu, aku akan ke sana besok,” kata Abdul

“tapi kupikir Pak Ali sudah lupa tentang diriku Bu.”

“Oh tidak, Nak,” kata ibunya, “Pak Ali selalu ingat padamu. Ia ingat akan hari-hari di mana kamu main-main di balik pagar rumahnya dan hari ketika kamu duduk di pangkuannya ketika istrinya meninggal.”

“ya sudah Bu, Abdul akan menghadiri pemakamannya besok, Bu Abdul masih harus mengerjakan pekerjaan, Ibu baik-baik ya Bu, Abdul sayang Ibu.. Assalamu’alaikum” ucap Abdul mengakhiri pembicaraannya lewat telepon.

Dalam dirinya bayangan Pak Ali masih berseliweran dalam dirinya ia berkata

“Beliau orang pertama yang mengajariku ilmu pertukangan. Tanpa beliau, aku tidak akan mungkin terjun ke usaha ini. Beliau yang selama ini mengajariku bagaimana sewaktu masih kecil mengajar sholat dan mengaji, nasihat-nasihat, petuah-petuah. Beliau mengajariku tentang bagaimana cara memaafkan sebelum diminta, bersabar atas derita, dan selalu bersyukur akan segala yang Allah berikan apapun itu” kata Abdul dalam dirinya.

Sesibuk-sibuknya Abdul, ia kemudian mengatur ulang jadwalnya di hari Acara pemakaman Pak Ali. Ia menghargai Pak Ali seperti ayahnya sendiri dan ia sangat ingin ada di sana ketika pemakamannya.

Hari Rabu malam ia tiba di kampung halamannya. Abdul, anak, istrinya dan ibunya kemudian berjalan ke rumah Pak Ali untuk terakhir kalinya. Di beranda, ia mengintip ke dalam rumah Pak Ali.

Terbesit banyak kenangan tentang masa kecilnya. Sofa yang sering ia duduk, meja makan di mana ia pernah memecahkan piring, telepon di sudut ruangan dan hey…

Ali terdiam sejenak.

“Kotak emas di ujung meja itu hilang!” seru Abdul.

Ibunya bingung. Segera Abdul menjelaskan tentang kotak emas di ujung meja itu. Ukurannya tak lebih dari satu jengkal orang dewasa dan bercat emas di luarnya. “Pak Ali selalu mengatakan itu miliknya paling berharga dan akan diberikan kepada seseorang yang layak menerimanya. Tapi setiap kali aku menanyakan isinya, ia selalu menjawab ‘Pokoknya berharga deh’”

Tapi sekarang kotak emas itu sudah tidak ada lagi. Dugaan Abdul, mungkin diambil oleh salah seorang keluarga jauhnya.

Dua minggu kemudian setelah pemakaman, seorang kurir mengantarkan sebuah paket untuk Abdul. Nama Abdul tertulis di atas paket itu dengan tulisan yang sangat sulit dibaca. Abdul membuka paket itu… Di dalamnya ada sebuah kotak emas (persis seperti kotak emas Pak Ali yang hilang itu) dan amplop sepucuk surat .

Abdul segera membuka surat itu dan membacanya, tanpa memperdulikan barang yang di bungkus kotak berwarna emas.

“Setelah kepergianku, tolong sampaikan kotak ini kepada Abdul Hanam. Ini adalah harta paling berharga yang kumiliki.” Sebuah kunci ada dalam amplop itu, kunci untuk membuka kotak itu. Hatinya bergetar, tanpa sadar ia menangis terharu, Abdul perlahan membuka kotak itu. Di dalamnya dia menemukan sebuah jam saku berlapis emas dan Al-Aqur’an yang indah. Dengan perlahan Abdul membuka jam itu dan Al-Qur’an itu di cium dan di peluknya erat.

Di dalam kotak terukir kata-kata yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya,

“Dear Abdul,, Terima kasih, Abdul Hanam, untuk waktumu. Ini saya berikan jam untukmu dan sebuah Al-Qur’an kesayanganku, sesuatu yang paling berharga bagiku. Ali mustafa.”

“Yang ia hargai dariku adalah… Waktuku.” Seru Abdul perlahan.

“dan Al-Qur’an ini adalah Al-Qur’an dimana sewaktu kecil pertama kali aku belajar mengaji bersama pak Ali, aku selalu membacanya ketika aku bersama pak Ali dulu…

ia sadar akan waktunya yang seakan ia sia-siakan, ia tak pernah berkunjung ke rumah pak Ali lagi, ia tak pernah mengaji lagi ketika ia sibuk dengan berbagai pekerjaan dan tugas di kantornya, Tak terasa air matanya mengalir begitu deras,. Ia menyadari akan waktunya yang hilang untuk orang-orang terkasihnya,. untuk mengajari anaknya mengaji saja tak pernah ada waktu apalagi untuk waktu dirinyasendiri untuk mengaji tak pernah ada..

Ia menggenggam jam itu beberapa saat. Kemudian ia menelepon sekertarisnya dan membatalkan semua janjinya untuk satu minggu ke depan. “Mengapa?” tanya Sari, sekretarisnya.

“Aku ingin menghabiskan waktu untuk keluargaku,” kata Abdul, “ dan untuk kau sari, terima kasih untuk waktumu.”

********

Sahabat dari cerita diatas kita pasti tahu di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa ditarik kembali yaitu itu adalah perkataan dan waktu. Waktu yang sudah lewat tidak akan bisa dikembalikan lagi. Waktu tidak bisa dipaksa mundur, tidak bisa diperlambat dan juga tidak bisa dipercepat. Waktu akan terus bergerak maju sesuai dengan penciptaanya.

Kita pasti tahu akan hakikat waktu sesuai dengan penciptaannya

Kita tidak akan bisa kembali ke masa kanak-kanak.

Kita tidak bisa mengulang satu peristiwa yang sama di waktu itu.

Sudahkah Anda memberi waktu pada diri Anda, keluarga Anda, orang-orang yang Anda kasihi dan sesame Anda?

Sudahkah orang lain menghargai waktu yang telah Anda korbankan kepada mereka ?

Sudahkah Anda menghargai waktu orang lain yang di berikan kepada anda?

Sudahkah Anda memberikan waktu untuk persiapan bekal di kampong Akhirat?

Sudahkah Anda menghargai Waktu?

Jika belum belajarlah memanage waktu dengan sebaik mungkin dan tetaplah Allah yang akan berada dalam hatimu.. buatlah sedikit saja kebaikan apapun itu untuk orang-orang yang di sekitar kita..

Sahabat Fillah Meskipun kehidupan dunia ini adalah sementara, namun jangan bermalas-malasan di dalam mencari nafkah (rezeki) di dunia ini dan jangan lalai mencari bekal untuk kehidupan akhirat.

Dan carilah dengan rezeki yang diberikan Allah kepadamu kebahagiaan di akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu (kemakmuran) di duunia, berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashash : 77)

Dan Rasulullah bersabda “Kerjakanlah urusan duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya. Dan laksanakanlah amalan akhiratmu seakan-akan kamu mati besok”. (HR. Ibnu ‘Asahir)

Cerita ini hanya fiktif belaka, Barakallahu Fiikum, Semoga Bermanfaat

Banyak Sayang dan Cinta^^

-Lia-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...