Selasa, 21 Februari 2012

[Recap] New Tales Of Gisaeng Episode 6

PERJODOHAN

Di dapur Buyonggak terlihat Soon Duk yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Telepon di dapur berbunyi, Hwa Ran memintanya minum bersama.
Di kamar Hwa Ran, Hwa Ran bercerita jika pemilik sebenarnya dari Buyonggak adalah orang lain. Dia adalah istri dari dokter yang sering didatangi Hwa Ran yaitu Jang Joo Hee (Ibu Ra Ra). Soon Duk tentu saja terkejut namun Hwa Ran hanya tersenyum. Pembicaraan beralih kepada kisah hidup Hwa Ran yang dulu pernah menjalin sebuah hubungan dengan beberapa orang pria, namun dari beberapa orang tersebut hanya ada seorang pria yang masih dicintai Hwa Ran sampai sekarang ini dan cintanya telah dipendam selama kurang lebih 10 tahun, yaitu dokter tempat dirinya sering berobat dan dia adalah suami Hee Joo (Soon Duk masih belum mengetahui jika Ayah Ra Ra adalah orang yang dicintai Hwa Ran).

Sementara di kediaman Ra Ra.
Ayah Ra Ra sedang sibuk dengan pekerjaan kantor di ruangannya. Ra Ra tiba-tiba masuk dan meminta tolong kepada Ayahnya untuk membantunya dalam acara perjodohan besok. Ibu Ra Ra ikut nimbrung dan mengatakan jika Ra Ra harus belajar memasak, namun Ra Ra dengan cuek mengatakan jika dirinya tidak membutuhkannya karena akan ada Ibunya yang selalu menemaninya dan juga banyak makanan siap saji sekarang.
Da Mo tidak bisa memejamkan mata dan bayangan Sa Ran mulai bercerita tentang keburukan dirinya kepada teman-temannya mulai terbayang-bayang di benak Da Mo. Da Mo bahkan mengajak Andre ke kamarnya dan curhat kepada Andre ketakutan yang sedang dialaminya saat ini. Ketakutan Da Mo ikut terbawa ke alam mimpi. Da Mo bermimpi Sa Ran memukulinya dengan amplop yang diberikan Da Mo sebagai uang tutup mulut kepada Sa Ran.

Keesokan harinya di meja makan.
Ayah, Ibu dan Nenek Da Mo melihat wajah Da Mo yang terlihat kusut dan sepertinya kurang tidur. Ayah Da Mo berpendapat jika Da Mo gugup akan bertemu dengan gadis yang akan ditunangkan dengannya.
Selesai makan, Da Mo sekeluarga minus Nenek Da Mo bersiap-siap menuju tempat pertemuan, hal yang sama pun terjadi pada Ra Ra dan ke dua orang tuanya.
Ra Ra terlihat malu saat melihat sosok pria yang ingin dijodohkan dengannya adalah Da Mo, pria yang diam-diam disukainya belakangan ini namun tidak bagi Da Mo. Raut wajah Da Mo berubah seketika. Ra Ra terlebih dahulu menyapa Da Mo dan menanyakan kabar Da Mo, ke dua orang tua mereka terlihat senang.
“kami bertemu beberapa kali dan terakhir saat di tempat latihan berkuda, Oppa terlihat hebat saat menunggang kuda sedangkan aku hanya menjadikannya sebagai hiburan” ucap Ra Ra
Di kediaman Sa Ran, Hwa Ja terlihat senang saat mendapat kabar dari temannya jika nomor polisi mobil yang diminta Hwa Ja untuk diinvestigasi, adalah nomor polisi dari anak seorang konglomerat pemilik sebuah perusahaan ternama. Hwa Ja kembali meminta tolong untuk mengkonfirmasi atau istilah kasarnya memata-matai, apakah Sa Ran dan Da Mo benar menjalin hubungan istimewa atau tidak?
Kesenangan Hwa Ja dilampiaskannya dengan mengambil alih pekerjaan Sa Ran yang sedang menyetrika. Hwa Ja bahkan bertanya, apa yang ingin dimakan Sa Ran siang nanti. Rasa senangnya tentu saja membuat Sa Ran merasa sedikit tidak nyaman tanpa mengetahui apa yang sedang dipikirkan ibu tirinya tersebut.
Perbincangan di acara perjodohan terus berlanjut, kadang kala keluarga Ra Ra yang mulai dan kadang kala sebaliknya. Dua insiden mewarnai pertemuan tersebut, saat Ayah Da Mo tanpa sengaja menginjak botol parfum yang tak sengaja dijatuhkan Ra Ra sesaat sebelum keluarga Da Mo masuk ke ruang perjamuan. Ra Ra tentu saja mengelak saat ditanya Ayahnya apa botol tersebut miliknya atau tidak, tidak mungkin Ra Ra mengakui kecerobohannya di hadapan calon mertua. Insiden yang kedua saat Ibu Da Mo makan spagethi hingga mulutnya belepotan.
Pertemuan hari itu diakhiri dengan saling bertukar nomor telepon antara Da Mo dan Ra Ra. Kedua orang tua mereka berharap agar hubungan mereka terus dilanjutkan.
Di perjalanan pulang, bayang-bayang Sa Ran kembali melintas di benak Da Mo. Da Mo membayangkan jika Sa Ran menceritakan kejadian beberapa waktu lalu kepada Ra Ra yang membuat citranya akan jatuh di hadapan semua orang sementara Ra Ra segera menelepon sahabat-sahabatnya dan meminta mereka bertemu sekarang juga.
Keluarga Da Mo sangat menyukai Ra Ra termasuk Nenek Da Mo yang mendengar certa dari Ibu Da Mo, menantunya tapi lain halnya dengan Da Mo
“aku merasa biasa saja, tidak ada sisi yang menarik bagiku” ucap Da Mo ketika Ayahnya memanggilnya dan menanakan pendapatnya
“dia begitu cantik dan langsing, kenapa tidak ada hal yang menarik?” Tanya Ayah Da Mo terkejut
“aku merasa biasa saja dan merasa tidak cocok dengannya” jawab Da Mo berusaha mempertegas
“kalau begitu cobalah untuk berbincang-bincang beberapa kali, mungkin seiring berjalannya waktu akan muncul perasaan suka” saran Ibu Da Mo
“tunggu dan lihat saja” jawab Da Mo ogah-ogahan
“tapi terlihat dia sangat menyukaimu” ucap Ibu Da Mo
“itu karena ada orang tua, dia hanya berpura-pura saja”
Sementara di keluarga Ra Ra, Nenek dan Kakek Ra Ra terlihat sangat senang ketika mendengar cerita dari anak dan menantunya. Mereka sangat berharap, pertemuan dan pernikahan segera dilaksanakan. Namun suasana berubah ketika Kang San dan Hyo Ri datang. Mereka menunjukkan sebuah foto pria yang kebetulan bekerja sebagai dokter di rumah sakit Kang San sebagai calon suami yang akan diperkenalkan dengan Ra Ra.
Nenek dan Kakek Ra Ra terlihat tidak setuju begitupun dengan Joo Hee karena ke dua iparnya bertindak gegabah tanpa memperbincangkannya dengan keluarga. Keluarga Ra Ra memilih menyembunyikan pertemuan perjodohan yang baru saja diadakan dari Kang San dan Hyo Ri.
Teman-teman Ra Ra terlihat terkejut saat mendengar cerita Ra Ra jika pria yang dijodohkan dengannya adalah Ah Da Mo, pria yang disukai Ra Ra sejak pertama kali mereka bertemu dan Da Mo juga adalah anak dari pewaris perusahaan terkenal. Sa Ran jauh lebih terkejut dan tiba-tiba diam, namun semua yang dibayangkan Da Mo jika Sa Ran akan bercerita mengenai kejadian beberapa hari yang lalu kepada teman-temannya tidak dilakukan Sa Ran.
Sa Ran memilih pulang terlebih dahulu dengan alasan sakit kepala. Pikiran Sa Ran kalut, antara ingin mengatakan yang sebenarnya pada Ra Ra atau tidak. Seseorang membuntuti Sa Ran ketika Sa Ran naik kereta bawah tanah, dia adalah orang suruhan Ibu tiri Sa Ran dan Sa Ran tidak menyadarinya. Seorang pria juga sedang memata-matai Da Mo yang saat ini sedang menunggu Sa Ran di depan apartemen Sa Ran.
Gong Joo tanpa sengaja bertemu Son Ja yang terlihat sangat aneh dengan penutup wajah dan sedang asyik berolahraga. Gong Joo juga ingin melakukan hal yang sama namun Son Ja melarangnya karena kulit Gong Joo akan rusak terkena paparan sinar matahari.

Kembali ke Da Mo dan Sa Ran
Kesal karena teleponnya tidak diangkat Sa Ran, Da Mo memutuskan pulang tapi dasarnya jodoh, Da Mo tanpa sengaja melihat Sa Ran yang sedang berjalan kaki menuju apartemennya.
“kita ngobrol sebentar” ucap Da Mo berusaha menahan Sa Ran
“tidak perlu, aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Aku tidak akan mengatakan apa-apa pada Ra Ra. Aku akan menutup mulut dan tidak perduli kamu akan menikah dengan siapa?” jawab Sa Ran
“aku tetap ingin berbicara dengan kamu, tidak enak dlihat orang kita berbicara dipinggir jalan” ucap Da Mo namun Sa Ran tidak perduli dan tetap berjalan pergi
“kamu jadi tidak sopan seperti ini denganku, apa seseorang tidak bisa berbuat salah?” Tanya Da Mo kepada Sa Ran yang sekarang berdiri di depan lift apartemennya
“tergantung kesalahan apa yang sudah dilakukan”
“kemarin, bukankah sudah menyetujui untuk mengakhirinya” ucap Da Mo dan menahan pintu lift yang akan tertutup.
“apa yang kamu inginkan?” Tanya Da Mo
“aku ingin kita berpacaran” ucap Sa Ran namun semuanya hanya ilusi karena Da Mo hanya berkhayal “lepaskan tanganmu, agar aku bisa naik” ucap Sa Ran.
Da Mo perlahan-lahan melepaskan tangannya dari pintu lift. Pandangannya tak terlepas dari Sa Ran begitupun dengan Sa Ran. Di dalam lift, Sa Ran merasa sedih dan merasa kehilangan sesuatu.
Kejadian lucu terjadi pada Gong Joo dan Son Ja. Disaat mereka hendak pulang ke apartemen, perut Gong Joo tiba-tiba sakit. Beberapa hari terakhir, Gong Joo memang sulit BAB. Dengan bantuan Son Ja, Gong Joo akhirnya sampai di sebuah toilet sebuah Bank (Son Ja menggendong Gong Joo, hehehehe).
Sementara Hwa Ja terlihat sangat senang ketika mendapat kepastian jika Sa Ran dan Da Mo benar-benar sedang berpacaran. Hwa Ja memberikan kartu kreditnya kepada Sa Ran dan meminta Sa Ran untuk berbelanja baju di butik untuk dipakai Sa Ran ketika bertemu teman-temannya (maksudnya Da Mo).

“tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini Dan Sa Ran” gumam Hwa Ja dalam hati.

Terjadi keributan tengah malam di Buyonggak tepatnya di dapur dan kamar para namja. Ahjussi Saeng Kang diam-diam menyelinap masuk ke dapur dan memakan sebutir telur dan tanpa sengaja menjatuhkan sebuah kotak makan yang berisi ikan asin. Kamar Eun Ja yang memang dekat dengan dapur membuat Eun Ja terbangun seketika dan mencari si pembuat onar di tengah malam ke setiap sudut ruangan termasuk ke kamar para namja. Tak lupa penggorengan dibawa Eun Ja sebagai persiapan untuk memukul si pencuri.
Eun Ja tidak puas masuk ke dalam kamar namja satu kali, Eun Ja kembali masuk dan mencoba memeriksa tangan Ahjussi Saeng Kang namun Ahjussi menolak dengan alasan dia belum mencuci tangan sehabis buang air kecil.
Oh Bong Yi tertawa setengah mati
“kamu harus menjaga rahasia ini bahkan jika kamu mati, jangan biarkan dia tahu… arasso” ucap Ahjussi Saeng Kang.

Da Mo berdiri di depan kaca dan mulai bersiap-siap
“apa kamu tertarik dengan kharismaku?” gumam Da Mo
Sementara di sebuah kamar terlihat seorang yeoja masih tertidur dengan pulas. Hpnya tiba-tiba berbunyi
“yomseo” ucap Ra Ra yang masih mengantuk
“apa masih terlalu pagi, aku Ah Da Mo”
Ra Ra masih menutup mata dan terbangun seketika
“ah tidak” ucap Ra Ra berusaha mengatur ritme suaranya
Da Mo mengajak Ra Ra bertemu besok malam, Ra Ra tentu saja senang dan mengiyakan. Tanpa pikir panjang, tanpa mencuci muka, Ra Ra bergegas turun ke lantai 1 dan mencari ke dua orang tuanya. Kakek Ra Ra segera keluar dari kamar dan mengatakan jika ke dua orang tuanya sudah berangkat kerja (dasar Ra Ra bangunnya kesiangan)
Sesuai janji yang sudah dibuat dengan Ayah Ra Ra, Hwa Ran sudah bersiap-siap dan menuju sebuah restoran yang terlihat mewah. Ayah Ra Ra sudah menunggu Hwa Ran dan tersenyum ketika melihat Hwa Ran datang.
Hwa Ran membuka pembicaraan terlebih dahulu dengan mengatakan jika seminggu yang lalu Joo Hee datang dan meminta Hwa Ran untuk menutup Buyonggak. Joo Hee memberinya waktu 3 tahun. Ayah Ra Ra tentu saja terkejut.
Hwa Ran menambahkan jika Buyonggak ditutup banyak orang yang akan menderita kerugian termasuk Negara Seoul karena Buyonggak dan Gisaeng salah satu kesenian Seoul yang sudah ada dari dulu dan Gisaeng berbeda dari Geisha.

Di Buyonngak sendiri para gisaeng mulai menghibur para tamu dengan tari-tarian mereka yang indah dan mempesona.
Ayah Ra Ra mengatakan jika dirinya akan memberitahu kepada istrinya. Pembicaraan kembali dilanjutkan. Hwa Ja meminta Ayah Ra Ra untuk membacakan sebuah puisi namun Ayah Ra Ra mengatakan jika dirinya tidak memiliki rasa percaya diri. Hwa Ja hanya tersenyum dan menatap Ayah Ra Ra.

=BERSAMBUNG=

MOHON UNTUK TIDAK MENGCOPY PASTE TULISAN INI
(terutama buat fanpage Kumpulan Sinopsis K-drama)

Kamsahamnida

3 komentar:

  1. thanks udh bkn recapny seneng bgt ma ceritanya ^_^

    ayo donk dilengkapi lg recapsny smpe episode trkhr hehe....

    BalasHapus
  2. @Anonim: insya Allah dibuat kelanjutannya, tapi sabar ya chingu....
    kamsahamnida dah mampir

    BalasHapus
  3. seru neh ceritanya,,ayo dong dilanjutin,,ditunggu ya,,semangat ^_^

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...