Selasa, 26 Agustus 2014

[Sinopsis] The Teacher's Diary Bagian Pertama



The TEACHER's Diary
Is it Possible to love someone you've never meet?
Inspired by a true love story


Movie: Teacher's Diary
Thai: คิดถึงวิทยา (Kid Teung Wittaya)
Director: Nithiwat Tharathorn
Writer: Nithiwat Tharathorn, Thodsapol Thiptinkorn, Suparuek Ningsanon, Sopana Chaoviwatkol
Producer: Jira Maligool, Chenchonnanee Soonthonsaratul, Suwimol Techasupinan, Wanruedee Pongsittisak
Cinematographer: Naruepol Chokanapitak
Release Date: March 20, 2014 (Thailand)
Distributor: GTH
Runtime: 110 min.
Genre: Romance
Tagline: I miss someone who have never met before.
Language: Thai
Country: Thailand


Memperkenalkan :

• Sukrit Wisetkaew - Song 
• Chermarn Boonyasak - Ann



Teacher’s Diary

Di sebuah sekolah
Seorang pria tengah asyik bermain dengan salah satu murid. Keasyikannya tersebut terhenti ketika seorang pria yang jauh lebih dewasa darinya (Kepala Sekolah) memanggilnya ke ruangan. Pria tersebut adalah calon guru baru. Dirinya dulu berprofesi sebagai pegulat sebelum akhirnya memilih beralih profesi sebagai guru.
Kepala Sekolah terlihat berpikir ingin menempatkan dimana pria yang sedang duduk di hadapannya ini. Pria yang diketahui bernama Song ini sama sekali tidak memiliki keahlian apapun meskipun dengan tenangnya, dia mencoba meyakinkan jika dirinya bisa melakukan hal apa saja termasuk foto copy dan mengirim teks.
“apa kamu bisa berenang?” tanya Kepala Sekolah pada akhirnya
Di suasana berbeda, seorang wanita tengah terlihat bersitegang dengan Kepala Sekolah. Kepala Sekolah menginginkan wanita tersebut untuk menghapus tattoo bintang di tangannya, sayang wanita yang bernama Ann dengan tegas menolaknya. Ancaman Kepala Sekolah yang akan memindahkannya ke sekolah terapung pun diabaikannya. Selama dirinya merasa benar, Ann akan teguh pada pendiriannya.
Dan pada akhirnya…. berakhirlah Ann dan juga Song menjadi guru di sekolah terapung. Mereka awalnya telihat santai dan berusaha menguatkan diri jika semuanya akan baik-baik saja… namun begitu melihat dan melalui medan yang lumayan jauh, melelahkan dan cukup terjal membuat ke duanya mulai berpikir. Sekolah terapung tempat dimana mereka akan mengajar ternyata sangat jauh dari kota dan berada di tengah-tengah sungai. Untuk menempuhnya memerlukan waktu yang lama dan dilanjutkan dengan menaiki perahu… belum lagi sinyal telepon dan listrik yang sangat minim. Omg.
Hal yang pertama kali dilakukan Ann begitu tiba di sekolah terapung adalah melihat ke sekeliling sekolah yang terlihat sedikit kumuh dan menyedihkan. Ann sepertinya sedikit beruntung karena dirinya tak seorang diri, salah satu sahabatnya bernama Gigi dengan senang hati menemaninya. Mereka bahkan selfie bersama sebagai ritual wajib pertama yang harus dilakukan meskipun yang terpotret hanyalah wajah Gigi seorang.wkwkwkwkw….
Sedangkan Song sendiri, lebih memilih melatih dirinya sebagai guru untuk pertama kalinya di sekolah terapung. Layaknya seorang guru professional, Song meminta anak murid khayalannya untuk memperhatikan setiap ucapannya. Saat sedang mencari kapur dan penghapus tulis, Song tanpa sengaja menemukan sebuah buku diary berwarna coklat tua yang sedikit usang… sebuah buku diary milik seorang guru yang pernah mengajar di sekolah terapung yang tak lain dan tak bukan adalah Ann.

Yup, Ann dan Song mengajar di sekolah yang sama tapi di tahun berbeda. Ann mengajar satu tahun lebih dulu daripada Song dan Song ditugaskan menggantikan Ann menjadi guru di sekolah terapung.
16 Mei 2011
Hari pertama pengasinganku. Aku mengerti apa yang Dae Jang Geum rasakan...ketika dia diasingkan ke Pulau Jeju. Pantas orang-orang ketakutan ketika Kepala sekolah mengancam untuk memindahkan seseorang disini. Ditengah-tengah kota antah berantah…. Kalau aku mati disini, mungkin aku sudah reinkarnasi duluan sebelum orang menemukan mayatku.
Song :
Song dilanda kebosanan…. Yang bisa dilakukannya hanyalah tidur, mencoba berteriak memanggil setiap murid agar segera datang ke sekolah yang nyatanya berakhir sia-sia…. Dilanjutkan dengan bersepeda sambil menyiram tanaman dan terakhir adalah mencoba mengoperasikan perahu motor yang mengakibatkan tangan kanannya terkilir. 

Ann :
Berbekal genset, Ann mencoba menyalakan lampu listrik yang hanya tersedia 1 buah. Begitu lampu menyala, Ann segera membawanya ke hadapan Gigi yang sedang fokus pada tong air yang sama sekali tidak mau mengeluarkan air.
“Airnya tidak mengalir?” tanya Ann
“Tidak” jawab Gigi bingung dan terus mencoba memutar keran air hingga berulang kali
“Gunakan tanganmu dan pukul tangkinya untuk mengeluarkan kotorannya. Ada yang jatuh?” saran Ann dan membantu Gigi memukul tong air
“Masih tersumbat” keluh Gigi
“Apa yang menyangkut disana? Masukkan jarinya kedalam. Lebih dalam” saran Ann untuk ke dua kalinya
“Ada yang jatuh? Sepertinya aku menyentuh sesuatu” ucap Gigi mulai semangat… sebuah kepala cicak muncul dari dalam keran air dan disusul oleh beberapa ekor cicak mati lainnya. Ann dan Gigi sontak terkejut. Wajah Gigi mendadak pucat dan beberapa menit kemudian, Gigi muntah-muntah karena jijik menyaksikan pemandangan yang tak biasa di hadapannya. 
Tak hanya berakhir di insiden cicak… Ann harus mengalami alergi di lengan kanannya karena memilih mandi di dalam sungai. Untuk bisa berkomunikasi dengan keluarganya pun dan bahkan kekasihnya, Ann harus meminta tolong kepada Ibu pemilik perahu motor untuk menyampaikan pesannya.
Aku tak yakin apa aku bisa bertahan. Tidak ada air yang mengalir. Tidak ada listrik. Aku tak tahu… Aku kangen Nui.

Song :
Hal yang dialami Ann, dialami pun oleh Song. Keran yang tidak mau mengeluarkan air terjadi pada Song meskipun Song sedikit beruntung karena tak ada cicak yang keluar dari dalam keran air saat Song memasukkan jemarinya ke dalam keran. Kegiatan mandi Song harus terhenti sejenak ketika menyadari sebuah perahu motor melintas tak jauh dari sekolah terapung. Song berteriak sekeras-kerasnya hingga Ibu pemilik perahu motor menghampirinya. 
“Anda tahu anak-anak yang belajar disini?” tanya Song setelah memberi salam
“Anda guru baru?”
“Ya. Namaku Song (Dua). Bu, dimana semua murid-muridnya?” tanya Song lagi
“Apa anak-anak tahu kalau guru baru sudah datang?”
Song dengan tangan terbalut kain seadanya berkeliling ke rumah-rumah penduduk yang berada tak jauh dari sekolah terapung. Ya, hampir semua warga di sekitar sekolah terapung memiliki kediaman di atas sungai/rumah terapung. Song berteriak memanggil para murid jika sekolah sudah dibuka kembali. Satu persatu murid berhasil dikumpulkan Song meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit dari murid yang diajar Ann dulu.
Ann :
Ann dibantu Gigi terlihat bersemangat mengajar murid yang jumlahnya 7 orang. Sebagai pembuka, mereka mengibarkan bendera kebangsaan negeri gajah putih tersebut dan diiringi lagu kebangsaannya. Kelas resmi dibuka. Ann memperkenalkan dirinya disertai gaya, hal yang sama pun dilakukan Gigi tapi dengan gaya yang sedikit berlebihan. Wkwkwkwkwk….
Song :
Song merasa terkejut ketika meminta murid-muridnya untuk memperkenalkan diri mereka. Mereka bergaya sambil menyebutkan nama mereka. Alasannya, agar Song, guru mereka dengan mudah mengingat nama setiap murid. Tiba giliran Song memperkenalkan diri dengan diiringi gaya yang biasa saja, murid-muridnya justru memandangnya dengan tatapan aneh. 
Tak mudah bagi Song mengajar ke empat anak di hadapannya. Mereka ternyata berbeda kelas. Muek kelas 1 dan terasa sulit baginya mengeja alphabet. Tuna sendiri ketika diminta menghitung, membutuhkan waktu lama untuk melakukannya. Tuna bahkan meminjam jari tangan dan kaki Muek yang duduk disampingnya hanya untuk menjumlahkan 37+25… hehehehehe

Merasa kesal dan jengkel, Song memilih meninggalkan muridnya sejenak yang mulai mengeluh jika saat ini mereka sedang lapar. Song memutuskan mencari sinyal di tengah-tengah sungai meskipun hasilnya nihil. Saat kembali ke sekolah yang didapati Song adalah kondisi kelas yang kosong… murid-muridnya dengan santainya berenang di tengah sungai sambil melambaikan tangan kepada dirinya.
Kekesalan kembali menghampiri Song dan imbasnya, Song memukul tangan ke 4 anak muridnya hingga salah satu dari mereka menangis.
“Bu Ann tak pernah memukul kami” isak Muek
“Dimana dia sekarang? Kalian selalu membicarakannya. Bu Ann, Bu Ann. Kalau kalian tak mau diajar olehku, katakan saja…. Biar aku bisa pergi” balas Song dengan emosi
“Ya sudah, Bapak pergi saja” jawab Muek yang masih terisak
Song hanya bisa terdiam… memikirkan semuanya. Mengajar di sekolah terapung tak semudah yang dibayangkannya. Menjadi guru sangatlah sulit dan tak seperti yang dipikirkannya selama ini. Belum lagi rasa rindu yang menderanya kepada sang kekasih hati yang berada jauh darinya. Hanya video kebersamaan mereka yang mampu menjadi pelipur hati Song.
Akhir pekan
Para murid kembali ke rumah mereka masing-masing, berkumpul dengan keluarga dan meninggalkan Song seorang diri di sekolah terapung. Hal tersebut dimanfaatkan Song untuk memeriksakan tangannya yang terkilir ke rumah sakit
Ann :
Ann memutuskan ke dokter untuk mengobati alergi di lengan kanannya. Ann tak seorang diri, ada Nui kekasihnya yang menemaninya.
“Kamu merasa baikan dan kemudian apa? Setelah kamu kembali, kamu akan mendapatkan ruam itu lagi. Aku punya pacar... tapi aku hanya bisa bertemu denganmu dua kali seminggu. Aku harus menempuh perjalanan 6 jam untuk menemuimu. Kamu hampir tak bisa berenang tapi kamu memaksa untuk tinggal. Kalau sesuatu terjadi padamu... akan membutuhkan waktu seminggu sebelum aku mengetahuinya” ucap Nui membuka pembicaraan
“Apa yang kamu ingin aku lakukan?” tanya Ann
“Pindah kembali saja” jawab Nui dan berhasil membuat Ann yang sedaritadi memungungginya berbalik
“Kamu tahu itu sangatlah tak mungkin” ucap Ann menolak
“Kenapa tidak? Itu karena tatomu. Sudah kubilang jangan membuatnya tapi kamu tak pernah mau mendengar. Kamu hanya ingin membuktikan kepada kepala sekolah kalau kamu benar. Berada ditengah-tengah antah berantah...mengajar 4-5 anak, apa itu sepadan?” tanya Nui sedikit kesal mendengar penolakan Ann..
“Yang benar 7… 7 anak. Kamu juga seorang guru... bagaimana kamu bisa bilang "apakah itu sepadan"? Dan "sudah kubilang jangan". Bisakah kamu berhenti mengucapkan itu? Aku sudah sering mendengarkannya selama 10 tahun. Aku sudah capek dengan semua ini” balas Ann tak kalah kesalnya.
“Aku juga sudah capek. Aku juga benci mengulangi perkataanku”
“Kalau begitu putus saja. Tidak ada yang menyuruhmu untuk berpacaran denganku” ucap Ann kembali memunggungi Nui
“kamu memulainya lagi. Setiap kali kita bertengkar kamu selalu menantangku untuk minta putus. Kamu ingin putus agar bisa pindah ke rumah kapal?” tanya Nui
“Kalau kamu benar-benar ingin begitu maka pergi saja” jawab Ann 
Song :
Usai dari berkunjung ke dokter, Song memutuskan mampir ke rumah pacarnya hanya untuk sekedar melepas rasa rindu. Namun belum jua bertemu dengan sang pacar, sebuah pemandangan yang menyesakkan hati terpaksa harus dilihatnya. Song melihat pacarnya sedang berduaan dengan seorang pria.
“Sejak kapan? Aku cuma pergi kurang dari seminggu” ucap Song berusaha menahan rasa sakit akibat pengkhianatan orang yang sangat dicintainya
“Seminggu atau setahun bukan itu masalahnya… Seperti kamu hidup dari hari ke hari. Apa kamu pernah memikirkan masa depan kita?”
“Kalau aku tak pernah memikirkannya...kenapa aku mengambil pekerjaan sejauh ini?!” jawab Song
“Pekerjaan? Kamu sebut itu pekerjaan? Kamu bahkan belum menjadi guru tetap. Tahun depan kamu bahkan tak tahu apa kamu masih punya pekerjaan”
“Dan motorku? Bisa-bisanya kamu membiarkan orang lain menaikinya?” tanya Song dan yang didapatinya, sang pacar melempar kunci motor milik Song ke lantai.

Ann :
Kenapa pria sebodoh itu? Kamu tak tahu? Ketika setiap kali seorang wanita menantangmu untuk minta putus... itu berarti mereka ingin kau menyerah. Lihat saja nanti... apa aku bisa hidup tanpa pacar! Jangan katakan apa yang harus aku lakukan! 13 tahun terbuang percuma dalam seminggu. Lucunya kehidupan ini.
S.O.G
S.O.G
S.O.G (Sekolah Orang Galau)
Sekolah Orang Galau.
Song :
Song dilanda kesedihan yang sangat dalam… entah tanpa disengaja atau takdir yang memang mengharuskan Song mengetahui lebih lanjut kisah hidup seorang Ann, Song memutuskan membaca kembali buku diary Ann yang dibiarkannya tergeletak begitu saja tanpa pernah disentuh sejak terakhir kali dirinya membacanya. Hal yang dilakukan Ann untuk menghilangkan kegalauannya dengan berteriak S.O.G kemudian melompat ke dalam sungai dilakukan pula oleh Song… tapi anehnya, Song memutuskan melompat dengan motor kenangannya bersama sang mantan. 
Membaca diary Ann menjadi kegiatan baru dan menyenangkan bagi Song…. Song bahkan tak memperdulikan waktu dan tempat melakukan rutinitas barunya tersebut. Bahkan di dalam kamar mandi sekalipun Song membacanya…. Hingga akhirnya tiba pada sebuah halaman….
Ann :
Saat mengajar para muridnya, Ann dikejutkan dengan teriakan Gigi yang berasal dari kamar mandi. Gigi terus berteriak histeris dan mengatakan ada sesuatu dari dalam kamar mandi. Ann memberanikan diri melihat ke dalam kloset dan hal yang membuat Gigi berteriak histeris sedaritadi adalah mayat seorang pria yang sudah membusuk. 
Song :
Song terkejut setengah mati usai membaca salah satu halaman di dalam buku diary Ann…. Tanpa menunggu lebih lama, Song berlari keluar dan memberi salam karena telah mengganggu penghuni kamar mandi tersebut.
Ann :
Seorang pria dan juga ditemani seorang biksu datang mengevakuasi mayat pria yang ditemukan Ann dari bawah toilet. Beberapa detik kemudian, Gigi muncul dari dalam rumah dengan membawa koper miliknya dan juga milik Ann.
“Ayo pergi Ann, aku sudah mengemasi barang-barang kita” ajak Gigi terlihat ketakutan
“Kamu mau pergi begitu saja?” tanya Ann terkejut
“Berikan aku alasan yang benar untuk tinggal disini. Kemarin malam ada cicak di air kita. Sekarang kita menemukan mayat. Berapa lama lagi kita harus bertahan?” jawab Gigi
“Tapi kalau kita pergi...kepala sekolah akan menutup tempat ini” ucap Ann khawatir
“Terus kenapa? Terserah, aku tetap pergi” ucap Gigi 

Ann hanya bisa terdiam dan membiarkan Gigi sahabatnya pergi meninggalkannya. Sekarang dirinya hanya seorang diri di negeri antah berantah ini ditemani ke 7 muridnya yang masih kecil.

Menjadi guru...bukan saja tentang A,B,C dan 1,2,3. Siapa yang menyangka... sebuah tato 3 bintang akan membawaku sejauh ini? Tidak pernah menyerah!
Akhir pekan, Ann memutuskan ke kota. Nui menyambutnya dan memutuskan menerima setiap hal yang diinginkan Ann termasuk mengajar di sekolah terapung. Ann terlihat senang mendengar ucapan Nui… Ann tak pernah menyangka jika Nui benar-benar bisa mengerti dengan dirinya.
Mulai hari ini dan seterusnya...walaupun aku harus mengajar sendiri...akan kulakukan sebaik-baiknya untuk mengajar mereka.
Ann mulai membiasakan dirinya tanpa kehadiran Gigi sahabatnya. Ann bahkan menyelingi metode pembelajarannya dengan permainan untuk mengusir rasa kebosanan dan menambah semangat belajar para muridnya.

Song :
Hal yang dilakukan Ann dilakukan pula oleh Song… sayang murid-murid terlihat tak bersemangat dan bahkan bosan melihat cara mengajar gurunya tersebut. Kebosanan mereka mendadak menguap ketika seekor ular muncul di tengah-tengah ruangan. Song memilih berlari ketakutan dan meninggalkan muridnya di dalam kelas. 
“Pak Song tolong, dia mau menggigitku. Pak Song tolong! Cepat! Tolong! Pak Song, ular!” teriak Muek, Tuna, Tong dan Gao bergantian. Langkah Song terhenti seketika… Lari bukanlah jalan keluar yang terbaik terlebih membiarkan ke 4 muridnya menghadapi ular sendirian di dalam sana. Song memutuskan kembali ke dalam kelas. Dengan keberanian layaknya pendekar yang sedang berperang, Song mengambil sebuah kursi dan melemparkannya lantai. Meleset… Song mengambil kayu patahan kursi dan memukulkannya sekuat tenaga ke arah sang ular. Para murid berteriak menyemangati Song, hingga pada akhirnya Song berhasil mengalahkan ular. Tapi tunggu dulu, sebuah bekas gigitan terlihat di lengan kiri Song.
“Tolong, aku digigit ular… Ikat lenganku agar bisanya tidak menyebar” pinta Song dengan sisa tenaga yang dimilikinya
“Pak Song. Bertahanlah” ucap Tuna panik
“Penglihatanku mulai buram, aku mulai mengantuk. Tampar aku sekarang (plak). Bawa aku ke rumah sakit” pinta Song lagi
“Cepat, angkat” perintah Gao
Tiba-tiba “Itu bukan digigit ular” ucap Muek dan mengambil kayu yang sempat digunakan guru mereka tadi. Sebuah paku yang menancap di kayu terlihat ada bekas darahnya, wkwkwkwk. Tuna, Tong dan Gao seketika menghempaskan tubuh guru mereka ke lantai.
Tangan Song yang masih terbalut kain perban dihiasi dengan tulisan oleh ke 4 anak muridnya “Pak Song keren”… Song yang melihatnya hanya bisa tersenyum senang. Keakraban dan kebersamaan mereka di sekolah terapung semakin terjalin…. Mereka tak hanya belajar bersama tapi juga memasak dan makan malam bersama.

Ann :
Ann terlihat gembira. Hal yang biasa dilakukannya seorang diri di kota dulu seperti memasak ternyata jauh lebih menyenangkan jika dikerjakan bersama-sama meskipun dengan alat masak yang jauh dari kata wow. Mereka membersihkan sekolah terapung dan bahkan mencuci bersama.
Song :
Song mengajarkan muridnya bermain gulat
Ann :
Ann yang dulunya tak pandai berenang akhirnya dapat melakukannya dibantu ke 7 muridnya.
Song :
Song sendiri yang tak pandai mengoperasikan perahu motor akhirnya bisa menjalankannya dengan cukup baik.
Song tanpa sengaja melihat tiang sekolah yang ditandai oleh Ann, batas tinggi setiap anak dan juga dirinya. Song mendekati tiang tersebut dan mengukur tinggi Ann yang ternyata sejajar dengan hidungnya. Tinggi Ann dan juga dirinya tak berbeda jauh. 
Song menugaskan ke empat muridnya mencari setiap barang yang ditinggalkan pemilik sebelumnya, tak lain dan tak bukan adalah Ann. Setelah mencari selama beberapa waktu, salah satu muridnya… Tong berhasil menemukan sebuah foto.
“Fotonya Bu Ann” teriak Tong
“Mana?” tanya Song semangat dan mengambil foto di tangan Tong
“Ini Bu Ann?” tanya Song
“Bukan, yang itu Bu Gigi. Tapi itu tangannya Bu Ann. Aku mengingat tato bintangnya” jawab Tuna. Song menutup wajah Gigi dengan ibu jarinya. Sekarang yang menjadi fokusnya adalah tangan Ann yang tergambar tattoo bintang. Song melirik sesaat ke perban yang membalut tangan kirinya, ada gambar bintang juga yang tanpa sengaja digambari ke 4 muridnya. Senyum merekah di wajah Song, entah kenapa Song mulai tertarik dengan sosok Ann yang tak pernah dilihatnya sekalipun. 
Usai mencari setiap barang yang mungkin saja ditinggalkan Ann, Song meminta muridnya untuk menggambar wajah Ann… lagi dan lagi senyum merekah di wajah Song, tak satupun dari muridnya bisa menggambar dengan baik bagaimana wajah Bu Ann, guru mereka dulu diingatan mereka. Tapi semuanya tak berarti membuat Song bersedih dan berkecil hati. Song menempelkan setiap gambar di dinding dan memandanginya lekat. Tiba-tiba… sebuah teriakan memanggil Song dan membuyarkan lamunannya. Tuna mengabarkan jika Bu Ann berada disini. Song sontak saja terkejut sekaligus senang. Dengan cepat Song berjalan ke luar dari kamarnya dan mendapati sosok seorang gadis yang sedang memunggunginya. “Bu Ann” panggil Song malu dan membuat gadis di hadapannya berbalik seketika dengan wajah yang ditutupi kertas bergambar salah satu murid Song tadi.
Song terbangun dari mimpinya… teriakan dan guyuran air dari Gao berhasil menyadarkannya. Gao berteriak jika di luar sedang hujan badai. Dengan tergesa-gesa Song berlari ke luar kamar dan memerintahkan semua muridnya masuk ke dalam kelas dan menutup semua jendela. Sayang, semuanya sia-sia… ditutupnya jendela tak mampu menghalau terpaan hujan disertai dengan badai. Bambu-bambu yang menjadi penopang sekolah terapung begitupun dengan atap seng yang menjadi pelindung dari hujan dan panas mulai bergoyang dan berterbangan. Song memeluk semua muridnya berusaha menenangkan mereka. Tangisan ketakutan terdengar dari setiap anak, mereka bahkan meminta pulang.
Buku diary milik Ann yang berada di atas tepian papan tulis pun tak luput dari dahsyatnya hujan badai. Song hanya bisa melihatnya dan tak mampu menggapainya hingga akhirnya tersapu air sungai. 
Keesokan harinya
Song berenang untuk mengumpulkan setiap lembaran demi lembaran buku diary Ann yang berceceran. Tak cukup sampai disitu, Song bahkan menyelam hingga ke dasar sungai guna mencari buku diary Ann. Dijepitnya setiap lembaran diary hingga tiba pada sebuah lembaran “JANGAN MENYERAH” , membuat Song tersenyum seketika. Dengan semangat 45, Song membenahi sekolah terapung yang porak poranda akibat hujan badai. 
Ditemani ke 4 muridnya Song berhasil membuat sekolah terapung kembali berdiri seperti semula meskipun tak sesempurna dulu. Buku diary milik Ann pun diperbaikinya dan tulisan yang mulai memudar kembali ditulisi Song. 
Ann :
Pra Ujian akhir semester dimulai… satu persatu murid berhasil menyelesaikan soal mereka kecuali seorang anak bernama Chon. Ann memanggil Chon ke depan kelas dan mengajarinya mengerjakan soal matematika.
“aku tidak suka matematika, tidak apa-apa kan bu jika aku tidak mempelajarinya?” tanya Chon begitu Ann selesai menjelaskan
“Tidak belajar matematika? Jadi bagaimana kamu bisa menjadi dokter atau insinyur?” tanya Ann
“aku tidak ingin menjadi seperti mereka” jawab Chon santai
“Kamu ingin menjadi apa?” tanya Ann
“aku ingin menjadi nelayan. Ya, ayahku nelayan, kakekku juga nelayan” jawab Chon lagi
Ann sontak terdiam… “Chon, ...ada banyak hal yang bisa kamu lakukan. Kamu masih kecil, jadi kamu punya banyak waktu untuk memikirkannya. Ayo, bantu Ibu menghapus papan tulisnya. Chon, bisa kamu lakukan sesuatu untukku? Apapun yang terjadi...jangan berhenti sekolah. Hanya itu yang kuminta. Janji?”
“Iya” jawab Chon lesu
Keesokan harinya
Ujian Akhir Semester
Ann hanya bisa memandangi salah satu kursi yang kosong… kursi yang biasa diduduki Chon sekarang tak berpenghuni. Ann memutuskan menaiki perahu motor ke rumah Chon.
“Chon, kenapa kamu tidak datang untuk ujian? Ingat apa yang kamu janjikan pada Ibu” ucap Ann ketika tiba di rumah terapung Chon
“Aku yang melarangnya pergi hari ini. Kakaknya sedang mengirim ikan ke kota dan tidak ada yang menolongku” ucap Ayah Chon sementara Chon hanya terduduk sambil menggulung tali
“Tapi hari ini ujian akhir semesternya. Kalau dia tidak ujian...dia takkan lulus SD. Dia tidak akan bisa melanjutkan pendidikannya dimanapun” ucap Ann tegas
“Itu tidak apa-apa”
“Anda ingin anak Anda memancing ikan seumur hidupnya?” tanya Ann sedikit kesal mendengar jawaban santai Ayah Chon
“Bu Ann, kalau aku tidak pergi memancing, bagaimana aku memberi makan keluargaku?”
“Aku mengerti Anda harus menafkahi keluarga Anda. Tapi kalau seorang anak ingin sekolah... itu sudah menjadi haknya. Anda merusak kesempatannya” ucap Ann semakin kesal
“Bu Ann, berhenti. Aku tak mau sekolah lagi, aku ingin bersama ayahku. Aku ingin menolong ayahku memancing” ucap Chon yang sedaritadi memilih diam. Ann tak percaya dengan apa yang didengarnya… Ann memilih pulang kembali ke sekolah terapung dan memanggil ke 6 muridnya yang masih tersisa, menanyai apa impian dan cita-cita mereka ketika besar nanti… dan jawabannya adalah “NELAYAN”.

Kenapa aku harus kecewa? Kalau anak-anak tidak ingin belajar lagi. Aku dipekerjakan menjadi guru, jadi hanya mengajar saja. Mereka hanya murid, kenapa aku harus peduli?

Song saat mengajari Chon mengerjakan soal tetapi anehnya cara penyelesaian soalnya tak seperti cara bu Ann… wkwkwk

Song :
Usai membaca diary Ann, entah kenapa Song merasa sedih…. Song seolah bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Ann. Tanpa menunggu waktu lama, Song segera mendatangi rumah Chon dan mencoba membujuknya agar kembali bersekolah. Song bahkan mencoba bernegosiasi dengan Ayah Chon jika di akhir pekan dirinya yang akan membantu menangkap ikan asalkan Chon bisa kembali bersekolah.
Ujian akhir semester kembali dimulai. Para murid terlihat lelah dan letih serta bingung mengerjakan soal-soal di hadapan mereka yang terasa sangat sulit. Dan benar saja, ketika hasil ujian keluar… nilai para murid didikan Song sangat kurang dan hal tersebut membuat Song mendapat surat peringatan dari Kepala Sekolah… jika nilai murid sekolah terapung tak mengalami peningkatan, kemungkinan besar kontrak mengajar Song tak akan dilanjutkan.
“Pak, Bu Ann... yang dulu mengajar di rumah kapal dimana dia sekarang?” tanya Song. Song merasa kesempatan saat ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan keberadaan Ann.
“Oh. Dia sebentar lagi menikah jadi dia dipindahkan untuk mengajar dengan pacarnya di Mon Fah. Karena itulah aku mempekerjakanmu untuk menggantikan posisinya” jawab Kepala Sekolah. Song mendadak terpaku di tempatnya berdiri. Seperti mendengar petir di siang bolong seperti itulah perasaan Song sekarang. Saat kembali ke sekolah terapung, Song segera membuka diary Ann… salah satu halaman luput dibaca Song….
Payah, siapa yang melamar dengan cara seperti itu

Ann :
Ann menemui Nui di sekolah Mon Fah
“Ann, kamu ingin mengajar disini? Ada banyak anak-anak disini. Disini ada juga seseorang yang menginginkanmu. Aku tidak ingin kehilanganmu selama 5 hari dalam seminggu lagi” ucap Nui membuka pembicaraan “Sepertinya kita harus...” ucap Nui dan mendadak di sekeliling mereka berdua menjadi berisik. Anak-anak murid Nui membunyikan alat musik sebagai tanda dimulainya proses lamaran Nui kepada Ann.
“Kukira kamu mau menunggu menjadi kepala sekolah... dan punya rumah dulu” tanya Ann
“Berada didekatmu saja sudah cukup bagiku. Jadi?” tanya Nui
“Baiklah” jawab Ann senang
“Sungguh?” tanya Nui tak percaya. Ann mengangguk dan tersenyum berusaha meyakinkan pria di hadapannya ini jika dirinya setuju untuk menikah.
Song :
Song kesal, marah, emosi mengetahui jika Ann, wanita yang dicintainya tanpa pernah ditemuinya akan segera menikah. Ann memilih membakar buku diary Ann namun baru beberapa detik, Song segera mengeluarkan buku tersebut dari dahsyatnya jilatan api. Entah kenapa dirinya tak tega membiarkan buku milik Ann terbakar begitu saja dan lenyap menjadi abu. Buku diary Ann tak memiliki salah apapun...


BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...