Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Agustus 2017

Tips Move on


1. Stop stalking
Tips pertama yaitu berhenti kepo, berhenti stalking ataupun cari tahu tentang dia pasca kalian putus. Please stop... Karena semakin kalian berusaha mencari tahu, semakin pahit kenyataan yang akan kalian terima

2. Berhenti berharap
Berharap dia ngehubungin kalian lagi, berharap dia meminta balikan lagi, bertanya2 dalam hati "dia sesedih gw gak sih", "dia ngerasain hal yang sama g si?", "kabar dia gimana y?", "dia udah punya pengganti gw belum?", "dia lagi ngapain?".
Ayolah, hentikan semua pemikiran konyol kalian itu. Berharap justru akan membuat hati kalian semakin perih, apalagi berharapnya sama manusia... Mending berharapnya sama Sang Maha Cinta, kita g akan pernah kecewa atau dikecewakan.

3. Melupakan?
Katanya tips move on terbaik itu belajar melupakan... Tapi kalau menurut gw pribadi dan pendapat sahabat gw, g usah melupakan... Karena semakin kalian berusaha melupakan, semakin sulit untuk melupakan. Percaya deh
Kalau kenangan itu datang dengan sendirinya, ya biarin saja, nikmati aja toh seiring berjalannya waktu, kalian pasti bisa melupakannya.

4. Nikmati setiap cm rasa sakitnya
Nikmati setiap rasa sakit yang kalian rasakan, nikmati setiap sembilu yang menghujam tepat di hati kalian, nikmati setiap cm kenangan yang datang tanpa diundang.
Keluarkan setiap kesedihan yang kalian rasakan, menangislah sampai mata kalian sembab, jangan dipendam atw berusaha terlihat kuat dan tegar.
Menangis pasca patah hati itu wajar kok. Menangis itu semacam alarm jika saat itu kalian sedang dalam kondisi "tak baik2 saja"

6. Buang semua barang kenangan
Buang, hempaskan, hancurkan, bakar semua kenangan atau hadiah yang kalian punya ataupun benda yang bisa mengingatkan kalian kepada si mantan.
Kalau misalnya g tega, kasihan atau sayang untuk dibuang, kalian bisa kok berikan pada orang lain, siapa tahu lebih bermanfaat utk mereka.

7. Dengerin lagu
Katanya kalau lagi patah hati, jangan dengerin lagu galau... Tapi kalau pendapat gw pribadi, g ada salahnya sih, sesekali dengerin lagu galau apalagi lagu yang mengingatkan kalian dengan si mantan. Toh, semakin sering didengerin, lagu itu pada akhirnya akan terdengar biasa saja.

8. Bangkit
Bangkit, benahi diri kalian, semangati diri kalian.
Tunjukkan kalau kalian bisa tanpa si mantan
Tunjukkan kalau kalian bisa tersenyum walaupun sudah tak lagi bersama
Tunjukkan kalau kalian itu wanita yang tegar dan kuat
Jalan ke tempat yang belum pernah kalian kunjungi, hangout bareng teman2 atau keluarga kalian karena mungkin saja selama kalian jalan bareng si mantan, teman2 dan keluarga merasa terabaikan.
Tanpa si mantan, Langit masih biru kok

9.Jaga hati
Jaga hati untuk seseorang yang memang ditakdirkan untuk kalian.
Memantaskan diri untuk seseorang yang memang ditakdirkan untuk kalian.
Menjaga diri untuk seseorang yang benar2 mencintai kalian, yang berani mengetuk pintu rumah dan menemui orang tua kalian.
Bukan yang cuma beraninya memberi harapan2 palsu ataupun janji2 manis.

10. Mengikhlaskan
Ikhlaskan dia, mungkin kalian tak berjodoh, mungkin dia bukan yang terbaik untukmu.
Ikhlaskan dia, toh kalau misalnya kalian jodoh, sejauh apapun kalian saat ini, kalau Allah bilang dia jodohmu, pasti kalian akan kembali bersama.
Mengikhlaskan memang tak semudah apa yang dibayangkan, tapi tak mudah bukan berarti tak bisa. Ala bisa karena biasa.
Dekatin diri sama Sang Maha Cinta, minta kepada Dia untuk memberikan kalian kekuatan dan pengganti yang jauh lebih baik.
Yakin dengan janji Allah, yang baik untuk yang terbaik.

Gw nulis tips ini berdasarkan pengalaman pribadi dan tips dari orang2 terdekat, hehehehe
Kalau ada yang mau tambahin silahkan.

Selasa, 14 Februari 2017

Jatuh Cinta dan Patah Hati




Jika ditanya pernah gak jatuh cinta, jawabannya pernah donk 

Dan jika ditanya lagi pernah gak patah hati, jawabannya pernah juga...



Jatuh cinta itu menyenangkan....
Jantung berdegup kencang apalagi jika melihat si dia meskipun dari kejauhan
Muka bersemu merah bak buah tomat ketika mendengar suara merdunya walaupun hanya bisikan kecilnya yang tanpa sengaja terbawa angin sepoi-sepoi
Katanya kalau jatuh cinta tai kambing pun bisa terlihat sepert coklat, playlist kamu pun isinya lagu cinta-cintaan... Kalau kata duo Maia, mau makan, mau tidur, mau ngapa-ngapain aja ingat si dia.


Dan semuanya
Berbanding terbalik dengan yang namanya Patah hati.... gak enak banget
Rasanya dunia sekeliling kamu runtuh, mau ngelakuin apapun bawaannya gak mood dan hanya tetesan-tetesan air mata yang mampu berbicara jika kondisimu saat itu sedang tak baik.
Predikat mantan pun disematkan pada dirimu, kalau kata Mba Raisa sih mantan terindah, hehehehe, tapi kalau yang terindah gak mungkin jadi mantan donk.


Disaat kita memilih untuk menjatuhkan hati kepada seseorang disaat itu pula kita sudah siap dengan pilihan dan konsekuensi yaitu patah hati... karena katanya "JATUH CINTA DATANG SEPAKET DENGAN PATAH HATI".


Aku pernah melakukan kesalahan, melabuhkan hati ini pada orang yang salah, mencintainya melebihi rasa cintaku kepada ke dua orang tuaku, mencintainya melebihi rasa cintaku kepada Rabbku, menomorsatukan dirinya dan menomorduakan Zat yang sudah memberiku hidup dan rezeki...
Maafkan diri ini Ya Allah, maafkan dewi Ya Rabb.


Saat ini izinkan aku untuk kembali MENJAGA HATI hanya untuk seseorang yang menjadi takdir hidupku... Ya kamu yang lagi baca tulisan ini, hehehehe


Serius amat bacanya

Dewi-Cendrillon ^^

Kamis, 26 Januari 2012

Pembalik Sandal سُبْحَانَ اللّهُ

Assalamualaikum Ukhti, Akhi
Lama ya dewi nggak posting sesuatu hal tentang kisah-kisah penuh makna dan sarat pembelajaran.
Di kesempatan kali ini (ah, lebay... abaikan), dewi ingin memposting sebuah kisah yang bersumber dari sebuah fanpage Renungan N Kisah Inspiratif (dewi sudah minta ijin, dilike ya fanpagenya ^^)...

Perempuan itu datang lagi ke masjid. Seperti biasa, dia selalu dikucilkan dan selalu berada di shaf paling belakang. Seolah-olah perempuan itu sebuah benda najis yang harus dijauhi, tak boleh bersentuhan dengan yang lain. Padahal seperti jamaah jamaah perempuan lainnya, dia dalam keadaan suci. Tidak haid dan tidak pula sedang junub. Para jamaah yang lain seakan akan memiliki hak sekaligus kewajiban untuk membenci perempuan cantik yang berusia tigapuluh lima itu dan sebisa mungkin menjauhi perempuan itu karena satu alasan: perempuan itu dulunya bekerja menyewakan tubuhnya yang aduhai….

Hari ini adalah tujuh hari setelah dia absen tak berjamaah di masjid. Seperti juga perempuan lain, dia baru saja kedatangan tamu bulanannya. Jadi bukan karena jera dikucilkan oleh jamaah lain yang kata-katanya sempat membuat kuping yang mendengarnya menjadi merah padam.

Maka setelah sholat dilaksanakan, para jamaah perempuan semakin nyaring gunjingannya.

“Apa kataku… perempuan itu cuma mau mengelabuhi kita. Cuma mau cari muka di depan pak Soleh.” Ucap seorang perempuan.

“Iya, baru beberapa hari ke masjid saja, sudah absen. Sekarang datang lagi.” Teriak perempuan yang lain yang lupa kalau sedang kedatangan tamupun dia juga tak akan pergi ke masjid.

“Ya wajarlah… kalau ordernya lagi sepi, dia kan mulai sadar.”

“Betul… dasar perempuan gituan!!”

“Aneh juga dengan pak Soleh. Masih saja membela wanita itu.”

Dan ternyata Pak Soleh mendengar gunjingan para perempuan itu. “Saya ingatkan lagi pada ibu ibu ya…. Jangan suka menggunjingkan orang lain!”

Para ibu ibu itu hanya diam.

“Kenapa mesti menghalangi orang yang mau bertobat? Allah sendiri Maha Penerima taubat hambanya yang benar benar mau bertaubat.”

Mereka hanya diam. Ada beberapa ibu-ibu yang menunjukkan mimik wajah tak suka.

“Baru saja kemarin saya berceramah, janganlah mengolok olok orang lain. Bisa jadi yang mengolok olok lebih jelek dari yang kita olok olok.”

Para ibu ibu itu tetap saja mematung. Kebencian semakin mencuat karena mantan pelacur ini selalu dibela oleh Pak Soleh.

Kamis, 18 Agustus 2011

Tiba-tiba Air Mata ini Mengalir......

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh....

Bagaimana puasanya Ukhti dan Akhi,....?
Nggak terasa kita sudah memasuki hari ke 18 di Bulan Ramadhan ini, pasti banyak pelajaran dan hikmah yang sudah saudara-saudaraku petik di Bulan Ramadhan kali ini.

Kali ini dewi akan memposting sebuah catatan yang bersumber dari Fanpage Renungan dan Kisah Inspiratif . Subhanallah, kisahnya bagus banget, membuat dewi meneteskan air mata saat membacanya seperti judul dari Postingan di atas "Tiba-tiba Air Mata ini Mengalir.....".

..:: Penjual Kue Semprong ::..

Semalam saya keluar dari Ranch Market jam 8.30. Hujan deras. Petugas Ranch Market setengah berlari mendorong trolly berisi barang-barang belanjaan saya. Saya juga berlari-lari kecil menjajari langkahnya menuju mobil. Saya membukakan bagasi dan petugas memindahkan barang-barang belanjaan saya.

Seorang penjaja kue semprong mendekati kami. Memang setahu saya banyak penjaja kue semprong disana menjajakan barang dagangannya dengan sedikit memaksa.

Karena terlalu biasa saya tidak mengacuhkannya, apalagi di hujan deras seperti ini.

Setelah memberikan tip saya masuk mobil, namun masih saya dengar ucapan penjaja kue semprong tersebut, ‘ Bu, beli kue semprongnya untuk ongkos pulang ke Tangerang”.

Didalam mobil saya berpikir saya kasih uang saja karena penganan yang saya beli di supermarket sudah cukup banyak, bagaimana jika tidak ada yang menghabisnya. Nanti jatuhnya mubazir. Saya memang lebih suka dengan para penjaja kue seperti ini ketimbang pengemis. Pelajaran berharga yang pernah saya dapat dari mantan bos saya sembilan tahun lalu. Masih teringat ucapannya ketika itu kami berdiskusi di kantor.

“Coba kalau ada penjaja makanan atau barang dan pengemis dilampu merah mana yang kamu berikan uang?, tanyanya. Belum sampai kami menjawab, ia berkata lagi “pasti yang kamu berikan uang si pengemis itu dan penjaja makanan atau barang itu kamu acuhkan”. Secara serempak kami mengiyakan. “coba pikirkan lagi, si pengemis itu pemalas tidak bermoral, kenapa kita kasih uang, sementara si penjaja makanan ataupun barang punya harga diri, dan pastinya secara pribadi lebih baik dari si pengemis, lalu kenapa kita tidak membeli barang dagangan si penjaja makanan atau barang tersebut? Teman saya nyeletuk,” karena kita ngga butuh”. Mantan bos saya bergumam, “Ya betul karena kita tidak butuh”.

Obrolan itu begitu singkat, tapi begitu mengena di hati saya. Pak Teddy Sutiman membuka mata hati saya untuk lebih bijaksana dalam melihat suatu persoalan, bukan hanya berpikir praktis saja. Dan sejak itu saya lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan atau barang di jalanan dibandingkan para pengemis.

Penjaja jual kue semprong itu masih dengan setia menanti disisi mobil saya. Saya menghela nafas.

Bukan karena tidak rela berbagi rejeki tapi karena menyesali banyak sekali penganan yang sudah saya beli tadi. Akhirnya saya membuka kaca, ” Pak, saya tidak mau beli kue semprongnya, tapi kalau bapak saya beri uang mau tidak?”. Tidak dinyana penjaja kue semprong itu menggelengkan kepalanya dan pergi dengan cepatnya dari sisi mobil saya. Saya tersentak dan menutup kaca jendela, hujan mengguyur deras dan membanjiri sisi kaca dalam mobil saya karena berbicara dengan si penjaja kue semprong.

Beberapa detik saya kehilangan daya ingat saya, karena tidak menyangka ucapan yang keluar dari penjaja kue semprong tadi. Sembilan tahun saya telah lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan ataupun barang dibanding pengemis. Sesekali jika saya tidak butuh barang mereka, selalu saya ucapkan kalimat tadi, dan hampir semuanya tidak pernah menolak pemberian saya. Baru kali ini ada yang menolaknya. Baru kali ini …

Hujan mengguyur makin deras dan saya masih terpaku di mobil, terbayang ucapannya ” untuk ongkos pulang ke Tangerang..” sementara total nilai belanjaan saya tadi mungkin bisa untuk ongkos pulang Bapak penjaja kue semprong selama tiga bulan.

Tersentak saya mencari-cari bayangan penjaja kue semprong ditengah kabut dari derasnya hujan, terlihat pikulannya ada di pinggir teras sebuah toko tutup.

Hujan masih deras mengguyur kaca mobil. Mudah-mudahan hujan cepat reda supaya bapak penjaja kue semprong tadi bisa pulang tanpa kehujanan.

Penjajanya duduk dibawah dengan muka pasrah. Saya mundurkan mobil menuju kearahnya. Kembali saya buka kaca jendela sebelah kiri ditengah guyuran hujan dan menjerit,’ Pak, memang harganya berapa ?”. Ia menyebutkan sejumlah harga yang sangat murah. Akhirnya saya katakan,” ya sudah deh beli satu”. Dia membawa kue semprong pesanan saya didalam plastik. Sampai di mobil,” saya serahkan uang, dan dia bengong karena saya tidak menyerahkan uang pas. Saya tau dia pasti bingung memikirkan kembaliannya, tapi dengan cepat saya katakan, “kembaliannya ambil buat Bapak saja”. Dia bengong. “ambil saja Pak, ini rejeki Bapak, memang hak Bapak”. Dia meneguk ludah, sebelum sempat dia mengucapkan apa-apa saya langsung menutup kaca mobil dan pergi.

Tiba-tiba air mata ini mengalir deras melebihi derasnya hujan diluar sana.

Kalau Bapak itu tidak menerimanya, saya tidak tahu seberapa sakitnya hati saya, karena didalam rejeki saya ada hak mereka termasuk hak Bapak penjaja kue semprong itu. Tiap bulan memang selalu saya sisihkan buat mereka, tapi mengetahui bahwa saya telah memberikan betul-betul kepada orang yang berhak menerimanya, betul betul kepada orang yang berhati mulia, dan betul-betul kepada orang yang membutuhkannya, betul-betul membuat saya merasa hidup saya begitu bermakna dan saya sangat bersyukur atas rahmat-Nya.

Ditengah leher saya yang sakit sekali karena tercekat, saya berdoa kepada Allah agar Bapak penjaja kue semprong tersebut dan keluarganya diberikan rahmat, kemurahan rezeki dan kemudahan hidup oleh Allah. Dan saya bersyukur atas segala rahmat dan kemudahan hidup yang diberikan Allah kepada saya dan keluarga saya.

Semoga Bermanfaat.

Syukran to : Renungan N Kisah Inspiratif

Minggu, 26 Juni 2011

[MOTIVASI] Boy's Don't Cry (Sebuah Keputusan Cinta)

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

-------------------------------------------------------

Prolog:

Hari ini Andri mengendarai vespa bututnya menuju rumah rumah poppy,seorang gadis manis teman kuliahnnya yg biasa memakai jilbab putih di kepalanya. Entah mengapa, sejak ia melihat gadis itu berubah penampilan dari seorang gadis gaul yg terkenal supel di kampus, kini berhijrah selalu memakai jilbab dan baju2 muslimah sejak 3 tahun lalu, ia nampak makin cantik dan bersinar. Poppy yg dulu dikenal aktif di MAPALA, kini telah bergabung ke organisasi Rohis di kampus.

Andri masih dalam senyumnya diatas motor dengan hati berbunga-bunga dan wajah yg segar. Bukan saja karena hari ini ia sudah berazzam akan mengkhitbah gadis itu, tapi ia juga sengaja membawa seikat bunga segar yg baru ia beli dari toko bunga sebelum berangkat tadi.

Andri sudah sholat istikharah berkali-kali, sudah bepuluh-puluh malam ia bangun utk sholat malam memohon doa kepada Allah akan niat baik dgn keputusan melamar Poppy. Dan hari ini ia merasa sudah diberikan jawaban oleh Allah. Bahwa cintanya harus dipertanggungjawabkan dgn segera, tidak boleh ditunda-tunda lagi karena bayangan gadis itu yg selalu hadir di matanya akan semakin mengotori hatinya. Niatnya untuk tetap menjaga kesucian hati dan jasadnya lahir batin tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Andri juga sudah siap mental bahwa apapun nanti jawaban Poppy, ia akan menerimanya dengan legowo dan jiwa besar. Jika cintanya diterima Alhamdulillah, jika ditolak Allahu Akbar. Sedikitpun ia tidak akan menangis. Ia sudah tawakalkan apapun hasilnya nanti kepada Allah dan tetap akan bersyukur karena paling tidak ia sudah memenangkan pertarungan dengan setan dalam hal ini. Bahwa setan yg selama ini telah membisiki hati kecilnya utk melakukan hal2 yg tidak baik utk mendapatkan cinta Poppy.

------------------*****----------------

Sahabat yg dimuliakan Allah..

prolog diatas hanya sebagai pengawal dari note ini. Intinya adalah tentang 'Keberanian' seorang laki-laki dalam mengambil sebuah keputusan penting dalam hidup. Seorang laki-laki tidak boleh plin-plan dalam mengambil keputusan, harus tegas dan punya prinsip.

Sebuah keputusan sangat menentukan keberhasilan. Begitupun ketika kita memutuskan untuk menyatakan cinta suci orientasinya untuk menyempurnakan agama alias menikah, maka kita akan berhadapan dgn sebuah pertarungan batin.

Disatu sisi ingin menyegerakan jejak sang kekasih, Rasulullah Saw. Namun disisi lain masih ada keraguan, ragu dan takut kalau sampai mengalami kegagalan.

Yaa..saat itulah kita dituntut untuk mengambil sebuah keputusan. Dan tentu saja, setiap keputusan akan menimbulkan konsekuensi. Ketika memutuskan utk menyatakan cinta kepada seorang yg menjadi pilihan kita, niat sudah kita luruskan, ikhtiarpun sudah kita sempurnakan. Bahwasanya kita ingin menjaga kesucian diri, kesucian hati, serta memelihara pandangan.

Namun ternyata betul-betul kegagalan yg kita dapatkan. Dirinya ternyta tidak menerima cinta kita, tidak bersedia bersama-sama merajut tali kasih diatas cintaNya,... Maka jangan pernah menyalahkan sedikitpun keputusan yang telah kita ambil. Yaa akhi..Boys Don't Cry...! ^.^

Tetaplah berqusnudzon kepadaNya, bahwa Allah tidak pernah sedikitpun menzalimi hambaNya.

Tanamkan kuat keyakinan dalam hatimu, patri kuat dalam dada, lalu katakan kalimat ini pada seseorang yang telah menolak cintamu:

"Ukhti..Inilah keputusanku. Keputusanku utk memintamu menjadi pendamping hidupku tidaklah keliru. Keputusanku tidak salah. Aku telah memikirkan dalam-dalam, apapu resikonya. Aku takkan pernah menyesalinya. Cintaku adalah cinta suci yg berlandaskan cinta ilahi, utk menjaga kesucian dien ini.

Kalaupun engkau menolak, menganggapnya keliru, atau aku tidak pantas untukmu, bahkan seandainya saja engkau memaki-maki diriku dgn segala macam cacian atas semua tindakanku, aku akan berusaha tetap tegar berdiri. Seperti tegaknya benteng yang kokoh atau setegar gunung uhud..".

Hmmm..berani gak kita berkata seperti itu?? Pada dasarnya bukan berani atau tidaknya kita mengatakannya, tapi bagaimana kita bisa mengambil maknanya...^.^

Kesimpulannya, keputusan apapun dan dalam hal apapun, asalkan itu baik, sudah melalui pertimbangan yg matang dan meminta petunjukNya. Sudah meminta pendapat pada hati nurani kita yg paling dalam, maka itulah keputusan kita. Jangan pernah sedikitpun menyesalinya. Sekali lagi..Boys Don't Cry !!!

Wassalamualaikum

----------------------

- Ifta -

Sumber : Renungan dan Motivasi : Iftha Istiany Notes

"Doa Cinta"


Allah..
Adakah ak trlalu rapuh berpijak
Hinggat stiap potong tubuhku tak mampu bergerak
Atau krn hatiku tak mampu bersedekap dlm tiap sujudku.

Allahu rabbi..
Apakah ak tlah pergi pada pagi dan tenggelam pada malam,
Hingga aku tak prnh mengunjungiMu
Dalam sujud dan wujud
Dalam kata dan rasaku
Dalam gerak langkah dan detak jantungku
Dalam sgala penghambaan yg kutuliskan..?

Allahu Kariim..
Aku berdiri pada hari
Dan menari diujung duri
Tanpa kesertaanMu..
Tanpa mengundangMu..
Hadirku hanya diriku,
Ah..betapa sombong diri ini.

Allah..
Berapa sejarah hidup tlah kugumpalkan
Dan kucatat tanpa mengagungkanMu,
Sebagai pencipta sejarah itu
Berapa banyak langkahku menujuMu,
Yang kucuri dgn hati
Padahal Engkau Sang Pemilik Hati

Yaa RabbulIzzati..
Biarkan kini ak terkapar pada cintaMu
Biarkan ak kini belajar dari cintaMu
Agar sgala sesal mnjadi pengabdian terbesar
Dalam sujud-sujud panjangku
Di 1/3 malamMu ktika ak menghadapMu.

Sumber : catatan ukhti ifta

Sabtu, 11 Juni 2011

Hadiah Paling Berharga Untuk Abdul

Catatan ini bersumber dari Renungan dan Motivasi : Ifta Istiany Notes .


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

==================================

Abdul baru saja mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari sebuah kotak yang dapat mengubah sudut pandangnya akan berharganya arti sebuah waktu.

Ia membuka sebuah kotak yang berlapis keemasan dan ia dapati didalamnya sesuatu yang sangat berharga juga sepucuk surat cinta yang sangat berkesan.

***

Waktu kecil Abdul tinggal bersama Ibunya di sebuah kota kecil. Ia bertetangga dengan seorang duda yang istrinya sudah meninggal. Duda itu bernama Pak Ali, ia tidak mempunyai anak dan hanya tinggal sendiri. Tiap harinya Abdul ditemani oleh Pak Ali, kemana pun Abdul pergi selalu ditemani oleh Pak Ali, apapun keinginannya yang tak terpenuhi oleh Ibunya Abdul, pak Ali selalu memenuhi keinginan Abdul. Pak Ali amat menyayangi Abdul seperti anak kandungnya sendiri,

Pria malang itu bersama Abdul semenjak Abdul bertumbuh dari seorang anak-anak, sampai dewasa, lulus dari kuliah, lalu bekerja dan menikah.

Setelah bekerja dan menikah di luar kota, ia tidak lagi tinggal di sebelah rumah pria itu. Abdul tak lagi ada waktu untuk Pak Ali, ia selalu sibuk akan pekerjaannya sehingga ia tak bisa lagi untuk bersama-sama Pak Ali, Abdul memanglah seorang pekerja keras yang gila kerja. Ia bahkan tidak ada waktu untuk anak dan istrinya.

Suatu hari Abdul mendapat telepon dari ibunya,

“Assalamu’alaikum Nak kau ingat Pak Ali? Ia meninggal dunia hari ini, dan Pemakamannya besok, Ibu harap kau bisa hadir saat hari pemakam”

Abdul terdiam kenangan masa kecilnya berseliweran dalam dirinya. Ia mengenang kembali masa-masa kecilnya dengan Pak Ali.

“Halo?” suara ibunya membangunkannya.

“Iya bu, aku akan ke sana besok,” kata Abdul

“tapi kupikir Pak Ali sudah lupa tentang diriku Bu.”

“Oh tidak, Nak,” kata ibunya, “Pak Ali selalu ingat padamu. Ia ingat akan hari-hari di mana kamu main-main di balik pagar rumahnya dan hari ketika kamu duduk di pangkuannya ketika istrinya meninggal.”

“ya sudah Bu, Abdul akan menghadiri pemakamannya besok, Bu Abdul masih harus mengerjakan pekerjaan, Ibu baik-baik ya Bu, Abdul sayang Ibu.. Assalamu’alaikum” ucap Abdul mengakhiri pembicaraannya lewat telepon.

Dalam dirinya bayangan Pak Ali masih berseliweran dalam dirinya ia berkata

“Beliau orang pertama yang mengajariku ilmu pertukangan. Tanpa beliau, aku tidak akan mungkin terjun ke usaha ini. Beliau yang selama ini mengajariku bagaimana sewaktu masih kecil mengajar sholat dan mengaji, nasihat-nasihat, petuah-petuah. Beliau mengajariku tentang bagaimana cara memaafkan sebelum diminta, bersabar atas derita, dan selalu bersyukur akan segala yang Allah berikan apapun itu” kata Abdul dalam dirinya.

Sesibuk-sibuknya Abdul, ia kemudian mengatur ulang jadwalnya di hari Acara pemakaman Pak Ali. Ia menghargai Pak Ali seperti ayahnya sendiri dan ia sangat ingin ada di sana ketika pemakamannya.

Hari Rabu malam ia tiba di kampung halamannya. Abdul, anak, istrinya dan ibunya kemudian berjalan ke rumah Pak Ali untuk terakhir kalinya. Di beranda, ia mengintip ke dalam rumah Pak Ali.

Terbesit banyak kenangan tentang masa kecilnya. Sofa yang sering ia duduk, meja makan di mana ia pernah memecahkan piring, telepon di sudut ruangan dan hey…

Ali terdiam sejenak.

“Kotak emas di ujung meja itu hilang!” seru Abdul.

Ibunya bingung. Segera Abdul menjelaskan tentang kotak emas di ujung meja itu. Ukurannya tak lebih dari satu jengkal orang dewasa dan bercat emas di luarnya. “Pak Ali selalu mengatakan itu miliknya paling berharga dan akan diberikan kepada seseorang yang layak menerimanya. Tapi setiap kali aku menanyakan isinya, ia selalu menjawab ‘Pokoknya berharga deh’”

Tapi sekarang kotak emas itu sudah tidak ada lagi. Dugaan Abdul, mungkin diambil oleh salah seorang keluarga jauhnya.

Dua minggu kemudian setelah pemakaman, seorang kurir mengantarkan sebuah paket untuk Abdul. Nama Abdul tertulis di atas paket itu dengan tulisan yang sangat sulit dibaca. Abdul membuka paket itu… Di dalamnya ada sebuah kotak emas (persis seperti kotak emas Pak Ali yang hilang itu) dan amplop sepucuk surat .

Abdul segera membuka surat itu dan membacanya, tanpa memperdulikan barang yang di bungkus kotak berwarna emas.

“Setelah kepergianku, tolong sampaikan kotak ini kepada Abdul Hanam. Ini adalah harta paling berharga yang kumiliki.” Sebuah kunci ada dalam amplop itu, kunci untuk membuka kotak itu. Hatinya bergetar, tanpa sadar ia menangis terharu, Abdul perlahan membuka kotak itu. Di dalamnya dia menemukan sebuah jam saku berlapis emas dan Al-Aqur’an yang indah. Dengan perlahan Abdul membuka jam itu dan Al-Qur’an itu di cium dan di peluknya erat.

Di dalam kotak terukir kata-kata yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya,

“Dear Abdul,, Terima kasih, Abdul Hanam, untuk waktumu. Ini saya berikan jam untukmu dan sebuah Al-Qur’an kesayanganku, sesuatu yang paling berharga bagiku. Ali mustafa.”

“Yang ia hargai dariku adalah… Waktuku.” Seru Abdul perlahan.

“dan Al-Qur’an ini adalah Al-Qur’an dimana sewaktu kecil pertama kali aku belajar mengaji bersama pak Ali, aku selalu membacanya ketika aku bersama pak Ali dulu…

ia sadar akan waktunya yang seakan ia sia-siakan, ia tak pernah berkunjung ke rumah pak Ali lagi, ia tak pernah mengaji lagi ketika ia sibuk dengan berbagai pekerjaan dan tugas di kantornya, Tak terasa air matanya mengalir begitu deras,. Ia menyadari akan waktunya yang hilang untuk orang-orang terkasihnya,. untuk mengajari anaknya mengaji saja tak pernah ada waktu apalagi untuk waktu dirinyasendiri untuk mengaji tak pernah ada..

Ia menggenggam jam itu beberapa saat. Kemudian ia menelepon sekertarisnya dan membatalkan semua janjinya untuk satu minggu ke depan. “Mengapa?” tanya Sari, sekretarisnya.

“Aku ingin menghabiskan waktu untuk keluargaku,” kata Abdul, “ dan untuk kau sari, terima kasih untuk waktumu.”

********

Sahabat dari cerita diatas kita pasti tahu di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa ditarik kembali yaitu itu adalah perkataan dan waktu. Waktu yang sudah lewat tidak akan bisa dikembalikan lagi. Waktu tidak bisa dipaksa mundur, tidak bisa diperlambat dan juga tidak bisa dipercepat. Waktu akan terus bergerak maju sesuai dengan penciptaanya.

Kita pasti tahu akan hakikat waktu sesuai dengan penciptaannya

Kita tidak akan bisa kembali ke masa kanak-kanak.

Kita tidak bisa mengulang satu peristiwa yang sama di waktu itu.

Sudahkah Anda memberi waktu pada diri Anda, keluarga Anda, orang-orang yang Anda kasihi dan sesame Anda?

Sudahkah orang lain menghargai waktu yang telah Anda korbankan kepada mereka ?

Sudahkah Anda menghargai waktu orang lain yang di berikan kepada anda?

Sudahkah Anda memberikan waktu untuk persiapan bekal di kampong Akhirat?

Sudahkah Anda menghargai Waktu?

Jika belum belajarlah memanage waktu dengan sebaik mungkin dan tetaplah Allah yang akan berada dalam hatimu.. buatlah sedikit saja kebaikan apapun itu untuk orang-orang yang di sekitar kita..

Sahabat Fillah Meskipun kehidupan dunia ini adalah sementara, namun jangan bermalas-malasan di dalam mencari nafkah (rezeki) di dunia ini dan jangan lalai mencari bekal untuk kehidupan akhirat.

“Dan carilah dengan rezeki yang diberikan Allah kepadamu kebahagiaan di akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu (kemakmuran) di duunia, berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashash : 77)

Dan Rasulullah bersabda “Kerjakanlah urusan duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya. Dan laksanakanlah amalan akhiratmu seakan-akan kamu mati besok”. (HR. Ibnu ‘Asahir)

Cerita ini hanya fiktif belaka, Barakallahu Fiikum, Semoga Bermanfaat

Banyak Sayang dan Cinta^^

-Lia-

Kamis, 12 Mei 2011

Cita dan Cinta

Terik matahari menyengat bagai duri, mulai menghilang ditelan bumi. anginpun masih enggan bertiup menghampiri. Awan hitam mulai unjuk gigi. Ahh…Semakin hari masalah hidup ini semakin sulit saja untuk aku jalani, aku berkeluh kesah di bibir mungilku yang masih kering karena kehausan dan lapar. Akupun mengambil dompet dari saku rokku dan meliriknya. Ternyata hanya ada uang tiga ribu rupiah. Aku berpikir, “masa’ cukup uang segini untuk beli makan dan minum di kantin sekolah?”. Eh.. tiba – tiba datang seseorang mengagetkan aku. “dooooor”

“aku kaget an” kataku sambil berdiri dengan tanpa melepas mata yang tajam di sisi jendela kelas dan melihat luas ke arah langit yang membiru seraya tenggelam dengan lamunan yang tak menentu.

“hayo...., lagi mikiran siapa tow? Pasti mikiran si doinya nich!” tegur anne, sahabat baikku.

“ah, kamu an! Bisa- bisa aja. Emangnya ada apa! cowok yang mau sama aku!”begitu kataku, sambil berlalu menuju tempat duduk didalam kelas. Anne datang dan duduk disampingku, lalu berkata “ kamu jangan merendah gitu dong Nur!, Teman – teman disekolah juga banyak yang mengagumimu karena keseriusanmu di bidang akademik, tak heran jika sejak tahun pertama kamu sudah mandapatkan beasiswa sampai tahun ketiga ini, bapak ibu guru juga pada kagum sama prestasimu. Betul nggak tuh?, lagian wajahmu juga tidak jelek- jelek amat kie. Hahaha”.

“Kamu ini an, bisa saja menghibur hatiku, tapi aku kan orang miskin an!”

“menilai orang tu bukan dari hartanya nur!, tapi dari ini sama ini” kata anne sambil menunjuk arah hati dan otaknya.

Dengan nada candanya, Anne selalu menghibur hatiku. “ayo Nur, ikut aku ke kantin.”

”nggak ah! Aku mau di kelas saja, mau baca buku.”

“ayolah!, aku yang traktir. Lagian baca buku juga bisa nanti toh?”

“yawdah deh, aku ikut ke kantin. Tapi bener di traktir lho ya?”kataku. Kantin sekolah kami berada di pojok kiri bersebelahan dengan perpustakaan sekolah.

Di dalam riuh kantin Mbok Nah dengan suara lantang anak sekolah yang serba kelaparan, tidak membuat suasana hatiku berubah, bahwa aku anak orang miskin. Mataku yang tajam membuat Anne merasa kebingungan dan tidak bisa berbuat apa-apa.“Sorry?” Cuma itu yang bisa diucapkan Anne. Namun aku tetap membisu sambil mengunyah mie ayam kesukaanku. Beberapa menit berlalu tanpa ada jawaban yang jelas dariku, sehinga membuat Anne seperti orang yang belum kenal sama sekali denganku.

“ mbak Nur, belajar nanti sore jadi kan?” suara seorang cowok menyambar telingaku.

“ya, insyaAllah jadi. Jam 15.30 yach!, mari makan?”

“iya mbak, temen- temen juga sudah tidak sabar menunggu belajar bareng sama mbak Nur” sahutnya. Aku memberanikan diri untuk tanya.

“ oiya nama mas siapa? Kelas pa?”. Ia menjawab dengan suara tegasnya

”namaku Musthofa al Zubaidi, biasanya teman – teman memanggilku mus. Aku kelas XIIb mbak”.

“oiya mas mus, tolong sampaikan ke temen- temen, jangan sampai telat yach!” sahutku.

“ciiip mbak,aq balik ke kelas dulu ya mbak nur?”

“iya, sampai bertemu lagi nanti sore!”

“ oke mbak”

Tak terasa lamunanku tersadar ketika anne menepuk pundakku. “hayou, makan ko’ ngelamun. Belum habis tuch!” kata Anne sambil menatap wajahku.

“Musthofa itu cowok yang cakep yach!,udah manis, sopan, berwibawa, santun lagi” tanpa sadar aku berkata seperti itu.

“lho ketahuan!”

“apaan” sahutku.

“kamu suka musthafa ya Nur?”

“nggak tahu lah An, aku ngaca, tahu diri gitu!he7”

“tidak apa- apa ko’ Nur, hal seperti itu wajar ko’. Tuhan menciptakan manusia kan memang untuk berpasang- pasangan. Laki- laki dan perempuan. Yang penting bisa jaga diri, jangan sampai terjerumus sama setan” kata Anne menasehatiku.

”makasih banyak ya An”

“oiya Nur, kamu ko’ ngajar teman seangkatan?”

” Iya, tapi bukan ngajar, melainkan belajar bareng aja. Pak. Prayit selaku Wakasek meminta saya untuk membimbing teman - teman dalam hal belajar diluar jam pelajaran, katanya biar ada persiapan buat UAN nanti. Lagian punya ilmu kan harus diamalkan bukan?, ditambah lagi untuk pengabdianku pada sekolah ini karena aku dapat beasiswa ” jawabku.

“wah, makin keren saja, sahabatku yang satu ini!he7”,ujar anne

Bel sekolah berbunyi, saatnya anak sekolah harus memulai menuntut ilmu dari guru. Detik, menit kian berlalu mengheningkan para murid yang menuntut ilmu, terkadang adanya persoalan bahkan jawaban yang dilontarkan dari mulut ke mulut membuat keheningan berubah menjadi gemuruh yang menandakan tingginya semangat belajar para siswa dikelasku. “Ting....tong....ting... tung ....kreek ...kreek ....rek” itu bukan bunyi gendang atau penjual es tingtong, tapi itulah bunyi bel sekolah yang kehabisan baterai yang menandakan jam sekolah pulang. Seruan kegirangan anak sekolah menuju rumahnya masing-masing. Terlihat di depan pagar sekolah seorang perempuan lugu menunduk lemas seperti kehilangan sesuatu yang berharga.

“Baaa....ada yang jatuh mbak, atau lagi nungguin taksi ya?” kataku kepada Anne, sahabat karibku itu. Maklumlah, ia dari keluarga yang mampu.

“itu taksinya sudah datang, aku pulang dulu ya?, atau kamu mau ikut aku sekalian?”

“Gak apa-apa deh”,jawabku. Rumahku dan rumah anne berjauhan, tapi searah. jarak sekolah dengan rumah anne jauh, dan ia sering di antar jemput atau naik taksi. Sedangkan rumahku tidak jauh dari sekolah.

Selang beberapa minggu tibalah minggu tenang yang bisa digunakan para siswa untuk menghadapi ujian nasional. Hari semacam ini adalah kesempatan siswa kelas III untuk libur sekolah dan belajar di rumahnya masing-masing.

“Assalamualaikum....ada anak cakep datang nich, apa ada Iqmi nurwahidah Ellisayanti si jelek di rumah?” tiba-tiba suara itu muncul di depan rumahku.

“Wa’alaikumsalam. Siapa sih Nur? Coba sana lihat,” suruh Ibuku yang sedang duduk di kursi teras belakang rumah. Biasa Bu, siapa lagi kalau bukan si Anne. Baiklah Bu, Nur pamit ke depan dulu.

Aku pun meninggalkan Ibu dan menuju ke ruangan depan dengan berjalan perlahan-lahan dan terinjit-injit menghampiri pintu.

”Ayoo....Anne Haryanti, si orang jelek datang bakalan rubuh rumahku!” Aku bercanda sambil membuka pintu rumahku. akupun mempersilakan sahabatku itu masuk dan membawanya ke kamar. Memang, keakraban kami seperti tak terpisahkan lagi. Karena kami sejak sekolah dasar sudah bersama, malahan tanggal kelahiran kamipun sama, cuma bulan dan tempat saja yang berbeda. aku sudah menganggap keluarga anne seperti keluarga sendiri, begitu juga sebaliknya.

“Nur, nggak sadar ya, kalo kita sudah mo ujian, kalau mikir hasil ujian nanti, jantung gue dek-dekan,” kata Anne saat berbaring di kasur milikku sambil memeluk guling kesukaanku.

“Makanya jangan dipikirkan terus, yang penting belajar yang benar dan usahakan semampunya agar bisa menjawab dengan tepat. Semua orang kalau berpikir pasti begitulah hasilnya”.

“Kamu serius amat sih Nur, sedangkan amat aja nggak nyeriusin kuk,” canda Anne sambil cekikikan tertawa. Anne memang sudah wataknya begitu, sukanya sudah serius ngomong, ujung-ujungnya ngawur membuatku menarik napas panjang-panjang.

“Waduh,” kataku

“Lo...kok ngeluh. Emangnya ada apaan nih Nur? Dari kemarin kamu kayak orang yang tak punya semangat aja.”

“Haaa....haaa.....haaa” aku tertawa sejadi-jadinya, sehingga meneteskan air mata di pipi merahku, sehingga membuat sahabatku itu keheranan.

“Lebih baik aku pulang aja dari pada ngobrol sama orang yang sakit jiwa begini,” kata anne sambil meninggalkanku sendiri.

Aku tertawa begitu, karena melihat celana yang dipakai Anne saat itu terbalik, malahan yang lucunya lagi dia menggunakan celana yang sobek dibagian mata kakinya. Mungkin kalau Anne tahu dia bisa malu sendiri, aku berkata dalam hati.

Ujian sekolahpun sudah aku jalani dengan mendapatkan hasil yang bagus. Namun bukan kegembiraan yang aku tunjukkan, tapi malah sedih. Kenapa tidak, yang aku pikirkan hanya ada bayangan Ibu tercintaku. Hampir dua tahun ibuku mengidap penyakit yang sangat serius. Dan kata dokter pun ibuku tidak bisa diobati lagi, melainkan hanya bisa pasrah kepada Yang Maha Kuasa saja. Ayahku sudah lama meninggal dunia semenjak aku di bangku Sekolah Dasar kelas 6. Semua biaya keperluan rumah selama ini, ibulah yang menanggung dengan hasil menerima upah menjahit pakaian. Tugasku hanyalah menuntut ilmu. tapi setelah menamatkan sekolah ini aku bingung, apakah aku melanjutkan lagi ke perguruan tinggi atau hanya sampai di sini saja dan membantu ibu untuk mencari nafkah hidup.

“Ibu, bagaimana kalau aku tidak melanjutkan ke perguruan tinggi lagi?” kataku pada ibu.

“Loh .. kenapa harus begitu?” jawab Ibuku. Ibu kaget mendengar pernyataanku.

“Bukan begitu Ibu, aku sudah menamatkan SMA, aku rasa itu udah cukup pengalaman buat aku untuk mengetahui jalan hidup dan pedoman untuk menuju kebaikan. Selain itu, aku nggak sanggup melihat Ibu harus bersusah payah sendiri untuk membiayai kehidupan kita yang cukup besar. Kalau aku nggak melanjutkannya tentu aku bisa membantu Ibu.”sahutku Sesaat, Ibu hanya terdiam mendengar ucapanku.

“tidak, Ibu rasa apa yang kamu pikirkan adalah salah. Ibu berkeinginan kamu bisa menjadi orang yang sukses. bukan seperti Ibu sekarang ini, meskipun Ayahmu tidak lagi bersama kita, tapi bagi Ibu hanya kamu yang bisa buat semangat hidup Ibu sampai sekarang. Bagaimanapun juga, Ibu ingin sekali melihat anak ibu menjadi orang yang sukses. Seandainya Ibu tidak sempat melihat kamu sukses, namun di alam baka sana Ibu bisa tenang nantinya,” nasehat ibu dengan linangan air mata.

“Bu.... ...tidak seharusnya Bunda berkata sedemikian. aku sayang ibu. Dengan keadaan ibu yang sedemikianlah aku tidak mau melihat ibu terlalu capek untuk semua ini, dan sudah saatnya Ibu harus istirahat.tapi, kalau ini keinginan ibu, aku berjanji akan berusaha semampuku. Karena hanya kebahagian ibulah yang saya inginkan.”

*****

Ketika aku sudah duduk di bangku perkuliahan, semua berjalan seiring waktu. “An, gimana dengan tugasnya, apa sudah disiapkan?” tanyaku pada Anne.

“sudah nona manis”

Aku dan Anne adalah sahabat yang tak terpisahkan. Sebab di mana aku sekolah bahkan bermain, anne pasti ada. Kekompakan kami membuat ibu merasa bahagia.

Tidak tahu kenapa hari ini hatiku risau, dan kuputuskan pulang kerumah lebih awal. Dan sesampainya dihalaman rumah,“Ibuuu...” aku menjerit sambil menuju ibu yang terkapar di lantai dengan mengaduh kesakitan.

“Ada apaan sih Nur?” rasa kaget Anne mendengar aku menjerit dengan wajah menegangkan.

“Ibu kenapa?, kita ke dokter ya buu.. maafkan Nur buu? Karena tidak ada disamping ibu, sehingga ibu harus tersiksa seperti ini.”kataku sambil mengusap linangan air mata.

Kamipun terburu-buru membawa ibu ke rumah sakit. Sudah hampir 5 jam ibu tidak sadarkan diri, sehingga isakan tangisku tak ada henti-hentinya.

“Sudahlah Nur, kita berdoa saja agar semuanya baik-baik saja,” kata Anne.

“Dokter, gimana dengan kesehatan Ibu?”

Dokter hanya bisa menarik napas panjang. “Kamu yang sabar ya, semua itu Allah yang berkehendak. Saya sudah berusaha sekuat tenaga. Dengan waktu yang singkat ini pergunakanlah waktumu untuk orang tuamu,” hanya itu yang bisa diucapkan dokter kepadaku. Aku segera menuju kamar dimana ibu dirawat.

“Bu, ibu, ini Nur bu, Alhamdulilllah...... semua baik-baik saja, syukurlah ibu sudah sadar” Kegembiraan di raut wajahku membuat Anne yang baru saja mengurus administrasinya datang untuk melihat kami.

Sudah sekian lama ibu tidak sadarkan diri. Baru saja ibu sadar, tapi hanyalah untuk sesaat saja dan akhirnya menghembuskan napas terakhir. Aku hanya terdiam dan kali ini tidak mengeluarkan isak tangis yang kuat buat ibuku, tetapi hanya senyuman dengan air mata yang berlinang di antara kelopaknya. Akupun memeluk Anne yang saat itu berdiri di sampingku. Aku sadar ibu akan pergi jauh, meskipun tidak tau itu entah kapan waktunya, sebelum aku siap dengan apa yang akan terjadi nanti. Dalam hati kecilku, aku senang karena di detik terakhir, ibuku tersenyum dan memanggil nama Allah.

“kring…kring….kring”,Telephon rumah berdering yang menyadarkanku dari lamunan panjangku.

“halo,assalamu’alaikum”

“wa’alaikum salam wr wb…Prof. Mustofa al Zubaidi nya ada bu?”

“Bapak lagi penelitian di Texas,3 bulan lagi baru pulang. Maaf,ini dengan bapak siapa ya?”

“ ini Nanang Prayogi bu, Apa ini dengan Ibu DR. Iqmi nur Wahidah Ellisayanti?”

“iya benar, ini mas nanang teman kuliah S2 bapak di Autralia?”

“yaa, benar bu…bagaimana kabar keluarga?semoga dalam kasih sayangNYA…oiya, saya sekarang di Jogja selama 1 minggu, Jika sempat, saya akan mampir kerumahnya ibu”

“Alhamdulillah, kami semua sehat. Silahkan kalau mas Nanang mau mampir, Nanti aq menghubbungi bapak dulu..”

“kalu begitu sudah dulu ya buu, wassalamu’alaikum”

“inggeh,wa’alaikum salam wr wb”

Tidak sadar hampir 15 tahun kepergian ibuku dan kini aku sudah menyelesaikan kuliah dengan gelar Dokor dari Sarjana Kedokteran. Kebahagianku terasa lengkap di disaat orang yang aku kagumi ketika SMA kini menjadi suamiku. Yaa, Musthofa al Zubaidi, ayah dari anak – anakku. Seorang professor dari sebuah perguruan tinggi ternama di Jogjakarta. Aku masih ingat ketika pertama kalinya bertemu dia diruang guru dan berlanjut ketika bimbingan belajar. Tapi aku tidak berani ngomong karena ketidak percayaan diriku dan kondisi keluargaku pada saat itu, apalagi aku wanita. Tapi semua jodoh Tuhan yang mengatur. Dia mempertemukan kami lagi pada saat kami semester akhir S1. Dan kamipun menikah dua tahun kemudian.

Dulu, pada waktu aku kuliah di jurusan kedokteran masih belum bisa menjaga dan mengobati penyakit ibuku. Tetapi aku yakin, suatu saat nanti aku bisa menolong orang lain dengan kemampuanku. Ibu, lihatlah kini aku sudah mewujudkan impian ibu, meski aku tidak tahu ibu bagaimana sekarang, tapi saya yakin ibu pasti bahagia melihat kesuksesan Nur. Meskipun Ayah dan ibu jauh di sana, tapi aku merasakan kalian selalu ada di hatiku. Semua impian yang aku lakukan ini hanyalah untuk kalian, semoga kalian tenang di alam sana...

******

Sobat, bahagiakanlah kedua orang tuamu selagi sempat

Karena waktu tak mengenal suatu diri dan tempat

*****

AYAH - BUNDA, I MISS YOU….

>>> by : Rachmat Efendi<<<

Sumber : Renungan N Kisah inspiratif

Minggu, 01 Mei 2011

PO.BOX : PAPA

Bismillaahirrahmaanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
=============================


" Semua ini berawal dari cinta, dan disebabkan oleh cinta.
Maka akupun juga akan menyelesaikannya juga dengan Cinta..."


Dari: Alexa Lana Patricia
Semarang, 14 juli 2003
Dear Papa Lexa yang jahat....

Pa, hari ini hari pertama Leza masuk sekolah. Lexa ingin bercerita sesuatu kepada papa tentang seorang anak laki-laki yang baru Lexa kenal.
Pertemuan kami berawal tadi pagi. Waktu itu Lexa takut sekali karena Lexa lupa membawa nasi bungkus. Semua anak yg lupa membawanya dihukum oleh senior2 yang jahat seperti papa. Lexa takut Pa, takut sekali.

Saat Lexa sedang takut2nya itu, tiba-tiba saja ada seorang anak laki-laki bertanya kepada Lexa apakah Lexa membawa nasi atau tidak. Lexa tidak menjawab. Lexa tidak peduli. Dia pasti sama seperti Papa. Sok baik dan perhatian, tapi jahat.

Senior itu semakin mendekat. Tentu saja Lexa semakin takut. Lexa hanya bisa pasrah saat dia ada dihadapan Lexa. Namun tanpa Lexa duga, didepan Lexa sudah ada nasi bungkus. Rupanya anak laki2 itu yg meletakkannya disana. Lexa diam tidak tahu harus bagaimana. Apa papa tahu, ternyata nasi itu adalah satu-satunya miliknya. Dan nasi itu ia serahkan kepada Lexa.

Anak itu akhirnya mendapat hukuman sebagai seorang pengemis yg meminta-minta sesuap nasi kepada peserta2 lain. Itu hukuman yang seharusnya Lexa tanggung. Sebenarnya ia hampir saja lolos dari hukuman itu karena kecerdikannya, tapi hari ini ia mungkin sedang tidak beruntung. Dan ternyata, hukumannya tidak hanya samapi disitu saja. Ia masih harus menanggung banyak sekali hukuman setelah itu. Dan semua itu gara-gara Lexa.

Sepanjang hari tadi, Lexa terus memperhatikannya. Lexa tidak tahu kenapa. Akhirnya saat istirahat tiba, Lexa bingung harus berbuat apa. Lexa masih ragu apakah anak itu baik atau tidak. Semua laki-laki sama dimata Lexa, jahat dan tidak bertanggung jawab seperti papa. Namun entah kenapa, tiba-tiba ada yg menggerakka Lexa untuk mendekati anak itu. Jadilah kami berkenalan. Namanya Haydar Ali Said. Anaknya kurus, kecil, dan sungguh lucu. Tapi yang pasti, dia baik dan tidak jahat seperti papa. Hari ini, untuk pertama kalinya Lexa menerima teman laki-laki dalam kehidupan Lexa setelah apa yang papa lakukan kepada Mama.

Semarang, 6 september 2003
Dear papa Lexa yang kejam..

Hari ini Lexa senaaaanng banget. Dua hari lalu Haydar datang kerumah untuk ngajarin Lexa ngaji, membaca Al-Quran, setelah dia tahu Lexa gak bisa ngaji. Ini pertama kalinya Lexa ngajak seorang cowok kerumah. Lexa bahkan sempat memaksanya segala, entah kenapa.
Setelah mengobrak-abrik isi lemari lexa, dan berganti dari pakaian sekolah dgn pakaian santai, Lexapun keluar. Tapi apa papa tahu apa yang dikatakannya begitu melihat Lexa keluar ? Sambil menundukkan matanya, Haydar bilang:

” Sorry Snow ( snow adalah panggilan Haydar khusus kpd Lexa), bukannya aku sok ngatur kamu, hanya saja……”
“ Hanya saja kenapa ?”
“ Kalau aku boleh jujur, kamu tuh gadis yang cantik, sangat cantik malah. Dan…maaf, kulit dan badan kamu juga indah. Oleh karena itu, kita gak bisa seperti ini. Aku laki-laki snow, aku takut..kalau kita seperti ini..aku bisa khilaf. Jadi kalau bisa, pakailah pakaian yg lain. Sekali lagi ak minta maaf kalau aku nyingggung perasaan kamu “.

Lexa kaget bukan kepalang Pa. Itu pertama kalinya Lexa dengar seorang cowok ngomong kayak gitu. Pakai Tank Top dan Rok mini atau celana pendek sedikit diatas lutut kan hal yan biasa? Hampir semua pakaian Lexa dirumah seperti itu. Dan biasanya cowok senang lihat cewek pakai pakaian seperti itu. Lexa bingung. Lexapun kembali ke kamar. Dikamar Lexa merenung agak lama.

Akhirnya Lexa sadar kalau apa yg dikatakan Haydar benar. Dan saat itulah Lexa kembali bingung. Hampir semua pakaian Lexa seperti itu. Lexa tidak tau harus memakai apa. Untung ada mukena yg hampir gak pernah Lexa pakai. Ya udah, Lexa pakai aja mukena itu.

Begitu melihat Lexa pakai mukena, Haydar tersenyum. Lexa malu. Dia pikir pasti tersenyum menertawakan Lexa dgn pakai mukena ini. Ternyata haydar malah bilang,” Begitu jauh lebih cantik”. Lexa jadi ikutan tersenyum. Ada perasaan aneh dihati Lexa. Begitu belajar ngaji selesai, Lexa seneng banget. Haydar bilang Lexa cantik.

Tidak hanya itu, Lexa akhirnya tahu kenapa Haydar seperti menjaga jarak dan menundukkan pandangannya kepada Lexa. Haydar memang lain, tapi bukan kelainan. Dan besok semuanya akan berubah. Semua pakaian ketat dan mini Lexa udah Lexa kasih ke bibi untuk dibuang. Barusan Lexa belanja pakaian sama mama banyaaaaaak banget. Mulai besok Lexa akan tampil beda dihadapun siapapun, lebih tertutup dan lebih longgar. Tapi kenapa..??

Semarang, 14 oktober 2003
Dear papa Lexa yg paling Lexa benci..

Hari ini Lexa sedih. Cowok-cowok yg suka sama Lexa semakin hari semakin banyak. Mulai dari yg mentereng sampai yang udik semuanya ada. Tapi kenapa Cuma haydar yang cuek. Haydar sama sekali gak peduli dengan hal itu, Pa. Ia gak peduli. Tapi kenapa Lexa yg jadi sedih dan terus-terusan mikirin Haydar sih? Apakah Lexa jatuh cinta sama Haydar ? Apakah seperti ini yang disebut cinta, Pa? Apakah karena ini juga, Lexa jadi sering motret Haydar pakai HP Lexa tanpa diketahuinya? Lexa gak tahu. Lexa ga pernah merasa kayak gini sebelumnya. Lexa ingin nangis, Pa !

Semarang, 14 februari 2004
Dear Papa Lexa yg tidak punya rasa sayang..

Hari ini semua orang ngerayain Valentine, hari yg mereka sebut sebagai kasih sayang. Sejak papa ninggalin mama, Lexa gak pernah peduli apa itu Valentine, maupun kasih sayang. Namun hari ini, ada dorongan kuat yg menyuruh Lexa untuk memberikan coklat kepada Haydar dan mengatakan betapa Lexa menyayanginya. Ya..lexa memang sangat menyayanginya, Lexa sangat mencintainya. Lexa gak bisa ngebohongin perasaan hati Lexa sendiri, Pa.

Lexa gak kuat. Lexa ingin Haydar tahu betapa Lexa sangat menyayanginya, hanya dirinya. Namun Lexa mengurungkannya, Pa. Lexa takut Haydar tidak menyayangi Lexa. Haydar selalu ada untuk Lexa, tapi dia juga selalu cuek. Coklat itupun Lexa berikan sebgai tanda persahabatan kami.
Oh, Lexa ingin menangis Pa. Apa kekurangan Lexa? Apa Lexa kurang cantik ? Semua teman2 laki2 Lexa selalu mengerubungi Lexa disekolah. Apakah Lexa kurang pintar ? Lexa selalu masuk ranking 3 besar dikelas. Tapi kenapa Haydar tidak peduli, dia tetap saja cuek, Kenapa…?

Lexa kemudian tahu, pasti karena Lexa bukan gadis yang taat beragama, yang salehah, ya pasti karena itu. Papa yang salah. Ini gara-gara papa. Papa gak pernah ngajarin Lexa sholat. Papa gak pernah ngajari Lexa ngaji. Papa Jahat !

Tapi nggak. Bukan itu. Lexa sekarang sudah berubah Pa. Lexa tidak seperti dulu lagi. Lexa selalu shalat lima waktu. Haydar yang mengajari Lexa sholat. Lexa setiap hari baca Al-Quran meskipun belum lancar. Dan itu juga haydar yg mengajari. Lexa juga kadang2 puasa senin-kamis, meskipun tidak rutin setiap minggunya, karena Lexa sudah baligh dan menstruasi Pa. Lexa juga sudah mengganti semua pakaian2 Lexa menjadi lebih tertutup. Lalu karena apa? Lexa bener2 ingin nangis, Pa !

Semarang, 11 juli 2004
Dear papa Lexa yang tidak pernah kembali..

Besok, Lexa akan berpisah dengan Haydar. Kami mengambil jurusan yg berbeda. Lexa tidak tahu kenapa dia memilih jurusan IPS padahal bahasa inggrisnya sangat bagus. Tapi bukan itu yg ingin Lexa sampaikan. Sekarang Lexa sudah tenang Pa. Ternyata dari cukup banyak gadis lain yg menyukai Haydar, tidak satupun yang ia terima. Lexa lega. Lexa bersyukur sekali. Berarti selama ini, belum tentu Haydar tidak menyayangi Lexa sama seperti Lexa menyayanginya. Buktinya, Lexa satu-satunya gadis yg bisa dekat dengan Haydar. Haydar selalu ada buat Lexa. Haydar selalu memperhatikan Lexa.

Kalaupun haydar tidak pernah mengatakan perasaannya, maupun menunjukkannya, Haydar pasti punya alasan tersendiri. Tapi yg jelas, Lexa sangat yakin Kalau hanya Lexa yg ada dihatinya. JAdi mulai besok, Lexa akan tetap menjaga cinta Lexa kepada Haydar sampai ia datang sendiri dan mengatakan kalau ia juga menyayangi Lexa. Lexa akan tunggu saat itu. Oh, semut pemberaniku, putri salju ini hanya milikmu..hanya milikmu.

Semarang, 8 januari 2005
Dear papa yang pengecut..

Pagi ini terasa bgitu cerah buat Lexa. Secerah hati Lexa yg berbunga-bunga. Masih tergambar dengan jelas dan terasa membekas di urat syaraf Lexa. Semalam..ah, Lexa tidak tau harus menulis apa.
Semua berawal dari padatnya kegiatan kemarin. Dari pagi sampai sore Lexa sibuk dgn padatnya kegiatan di OSIS sekolah. Dan malamnya Lexa masih harus ngurusin pelantikan anak-anak PMR. Sungguh menyita energy lexa. Namun justru dari situlah semuanya terjadi.

Saat itu Lexa sedang berjalan ke masjid sekolah utk sholat isya’. Tapi mendadak bada Lexa tiba-tiba lemas. Kepala Lexa juga sakit sekali. Lexapun terus memegangi kepala. Saat itulah Haydar memanggil Lexa, dia baru saja keluar dari masjid sekolah. Melihat Lexa yg terus memegangi kepala, haydar langsung menghampiri dan menanyakan keadaan Lexa. Entah kenapa, begitu Haydar sampai didekat Lexa, Lexa langsung menjatuhkan diri Lexa. Kontan saja haydar langsung menangkap tubuh Lexa. Haydar panik, ia memanggil nama Lexa berkali-kali. Lexa tidak menjawab. Mata Lexa terpejam. Padahal saat itu Lexa sebenarnya masih sadar dan cukup mampu utk berjalan sendiri.

Setelah melihat sekeliling kami tidak ada siapa-siapa untuk dimintai tolong, Haydar langsung mengangkat Lexa dgn dua tangannya. Tapi Pa..ini yang membuat Lexa tidak mengerti. Sambil membopong Lexa ke ruang PMR, Haydar bergumam mengucapkan istighfar tanpa henti. Dan kedua tangannya yang membopong Lexa terasa berkeringat. Lexa merasa Haydar ragu-ragu dalam membopong Lexa, entah apa yg ada dalam pikirannya. Tapi Lexa tidak mempedulikan itu. Dan secara reflek, ketika lengan Haydar membopong tubuh Lexa, Lexapun menempelkan badan Lexa pada haydar. Untuk pertama kalinya dalam hidup Lexa, Lexa bersentuhan seperti itu dgn seorang laki-laki. Dan dia adalah Haydar, orang yg paling Lexa sayang. Lexa bahagiaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,..banget. Haydar pun seperti sudah menjadi milik Lexa.

Haydar terus membopong Lexa menuju ruang PMR. Sesekali Lexa mengintip dan melihat raut wajahnya yg bgitu cemas dan ketakutan. Tapi aneh pa. Rasa cemasnya bukan karena mengkhawatirkan keadaan Lexa, tapi seolah cemas kepada dirinya sendiri. Lexa benar2 tidak mengerti. Oh haydar,maafkan aku sayangku. Biarlah dosa ini aku yg tanggung. Engkau tidak tahu apa2 sayang.

Akhirnya kami sampai di ruang PMR. Semua orang panik. Haydar juga panik. Ia terus memanggil nama Lexa. Tapi Lexa tetap diam. Ada kebahagiaan luarbiasa saat mendengarnya terus menerus memanggil nama Lexa dgn cemas seperti itu. Setelah Lexa diperiksa dan disuruh istirahat dikamar PMR itu, haydar menunggui Lexa seorang diri dan duduk dikursi sebelah ranjang. Setelah itu Lexa melihat Haydar menengadah ke langit dan bergumam, “ Yaa Allah ya Tuhanku. Tanganku ini telah ternoda dengan memegang lengan dan tubuh seorang gadis yg bukan siapa-siapa aku. Bertahun – tahun aku menjaga kesucian jasadku lahir batin dari sesuatu yg tidak halal buat aku, tapi sekarang semua itu telah aku langgar. Ya Tuhanku..maafkan hambaMU yg dzalim ini,.”.

Setelah itu Lexa mendengar haydar menangis dan keluar dari ruangan. Pa..saat itulah Lexa baru menyadari kenapa sewaktu membopong Lexa ke ruangan PMR itu tangannya berkeringat dan wajahnya seperti ketakutan. Ternyata dia ketakutan dan cemas bukan karena melihat Lexa tak sadarkan diri, tapi karena merasa berdosa dengan membopong Lexa yang baginya buka nsiapa-siapa. Lexa jadi merasa sangat bersalah. Dan Lexa juga sangat heran. Ternyata ada cowok seperti haydar yg merasa berdosa memegang wanita adalah berdosa. Tak sadar Lexa menangis Pa, tapi sekaligus juga bahagia dan senang.

Semarang, 17 juli 2005
Dear Papa yg mulai Lexa lupakan..

Beberapa hari ini banyak yg terjadi antara Lexa dan Haydar. Ada cemas, khawatir, tangis, juga bahagia. Seminggu pertama di kelas XII benar2 membuat Lexa stress. Setelah selesai ngurus MOS, Lexa selalu nyariin haydar. Tapi gak pernah ketemu. HP nya juga gak aktif saat Lexa berkali-kali telpon atau sms. Apa dia gak tau kalau Lexa kangen banget sama dia.

Akhirnya ketemu juga Lexa sama Haydar. Lexa ingin marah, tapi gak bisa. Ternyata selama ini hpnya rusak. Kalo udah gitu, Lexa ingin banget beliin HP buat Haydar. Kalo perlu dua, atau tiga sekalian biar bisa Lexa hubungi dia terus. Tapi gak mungkin, dia pasti nolak mentah-mentah.

Akhirnya kangen Lexa pun terobati. Tapi ada yg mengganjal sedikit dihati Lexa Pa. Dia adalah seorang gadis, namanya Salma. Anak itu cantik banget,Pa. Lexa pasti kalah sama dia. Udah gitu, ia juga pintar. Aktivis rohis di sekolah. Dia juga berjilbab. Tapi bukan itu yang jadi masalah. Sepertinya haydar tertarik sama dia. Lexa cemburu, Pa. Sekalian aja Lexa godain haydar. Eh dia malah diem. Lexa jadi gak enak hati. Tapi, Lexa jadi sedih. Bukan Cuma karena dia bilang Lexa gak bisa masak. Tapi karena dia bilang,” Ya kalo kamu gak bisa masak gak pa-pa sih. Kan yg merasakan ntar suamimu kelak, bukan aku. Jadi ngapain juga aku ikut campur”.
Lexa sebel, kenapa dia ngomong gitu. Dia ngomong seolah-olah dia gak bakal jadi suami Lexa. Apa dia gak tau kalo Lexa Cuma sayang sama dia ? Dan kalo Lexa nikah, Lexa Cuma mau nikah sama dia. Lexa Cuma mau jadi istrinya Haydar, bukan yg lain. Lexa sebel…sebeeee….eeeell.

Lexa nangis Pa. Hati Lexa sakit banget.. Tapi gak. Lexa gak boleh cengeng. Kalo Lexa mau jadi istrinya haydar, Lexa harus tegar. Haydar benar. Lexa harus bisa masak. Biar nanti Lexa bisa terus masakin haydar.
Lexa kaget. Haydar tiba-tiba datang kerumah. Haydar sepertinya tahu kalo hati Lexa udah terluka karena dia. Oh, dia emang ngerti banget isi hati Lexa. Dan Lexa gak pernah bisa benar2 marah sama dia. Kami akhirnya belajar memasak bareng. Duuuuuhhhhh..senengnya. Lexa seperti udah jadi istri Haydar sungguhan Pa. Apalagi saat Lexa bikinin minuman kesukaan Haydar, Lexa bener-bener seperti sedang melayani haydar sebagai seorang istri. Tapi dasar Haydar ,ia malah ngeledek.

Oh, malam tadi sungguh indah. Untung Lexa udah beli gitar. Jadi Haydar bisa Lexa ajak nyanyi bareng. Sebuah lagu kesukaan Lexa pun meluncur dari bibir kami. Bintang bertaburan di langit semarang, dan bunga bertaburan di hati Lexa.

Jogyakarta, 15 agustus 2005
Dear papa yg tidak pernah kangen Lexa..

Saat Lexa tulis ini, Lexa baru saja selesei ikut lomba nulis essai berbahasa perancis di jogya. Pikiran Lexa tidak tenang. Semalam hanya ada haydar, haydar dan haydar. Seharian ini dia gak sms Lexa. Lexa sedih. Lexa gak konsentrasi ke lomba. Dunia Lexa benar2 sepi tanpa haydar. Lexa gak kuat sehari aja gak ketemu haydar.

Jogyakarta, 16 agustus 2006
Akhirnya haydar kirim sms ke Lexa. Hati Lexa benar2 tenang Pa. Lexa semangat sekali lombanya. Lexa yakin sekali pasti menang kali ini. Dan ternyata memang bener Pa. Lexa dapat juara dua dalam lomba itu. Dan itu semua karena haydar. Oh haydar, tidakkah engkau tahu betapa berartinya sekedar satu kata yg keluar dari bibirnya..?

Sekarang Lexa udah bulatkan tekad Lexa. Lexa gak peduli lagi. Pokoknya Lexa besok mau ngomong ke haydar kalu Lexa sayaaaaaannnngg banget sama dia. Lexa gak mau kehilangan dia. Ya, besok Lexa akan ngomong ke haydar. Tapi sekarang, Lexa mau cari ssuatu dulu buat kekasih Lexa itu.

Semarang, 20 agustus 2005
Dear papa Lexa nan jauh disana..

Tulisan ini Lexa buat dgn sisa2 tenaga Lexa yg tersisa. Lexa sudah hancur Pa, Hancur ! Tidak ada lagi Cahaya, tidak ada lagi pelita. Hati Lexa sudah gersang. Dan airmata Lexa sudah benar2 habis Lexa keluarkan. Tiga hari ini lexa terus mengurung diri dikamar dan menangis. Hanya itu yg bisa Lexa lakukan.
Sepulang dari Jogya tiga hari lalu, Lexa bertekad akan mengutarakan isi hati Lexa kepada haydar. Lexa sudah siapkan juga kado kejutan buat haydar sampai tengah malam, sampai mata Lexa benar2 letih sekali. Esoknya, pagi-pagi buta Lexa udah bangun untuk memasak dan juga menata semuanya. Namun kenyataan akhirnya menusuk Lexa dgn kejam.

Saat Lexa sedang berbunga-bunga menanti kata cinta dari haydar, tiba-tiba saja dia bilang kalau ia mencintai Salma. Lexa benar-benar binasa seketika itu juga Pa. Bukan nama Lexa yg Lexa dengar dari mulut haydar, melainkan Salma. Salma ! Ya, haydar mencintai salma, sahabatku sendiri.

Saat itu Lexa pura-pura tertawa didepannya. Tawa yg paling menyakitkan yg pernah Lexa lakukan. Lexa menyesal telah mengenalkan salma dan menjodoh-jodohkannya dengan haydar. Tapi kenapa Salma? Owh, pasti karena dia gadis yg salehah, berjilbab rapi, dan seluruh tubuhnya tertutup. Dia juga cantik dan lemah lembut. Sementara Lexa tidak !
Dihari ulang tahun Lexa ini, Lexa bener2 ingin mati Pa.

Lagi, 20 agustus 2005
Baru tadi pagi Lexa tulis surat buat papa, sekarang Lexa sudah tulis lagi. Lexa tulis ini ke papa karena Lexa ingin menunjukkan bahwa Haydar memang tidak seperti papa yg jahat. Haydar datang lagi ngasih kejutan ulang tahun ke Lexa. Haydar lalu banyak berbicara tentang wajah-wajah cinta. Juga mengenai pandangannya tentang cinta. Lexa lalu mengerti sekarang apa itu cinta Pa. Yaa..Lexa sudah mengerti sekarang apa itu cinta. Dan haydar yg memberitahukannya pada Lexa. Bagaimana harus mencintai dan dicintai yg sebenarnya. Bahwa cinta yg benar adalah diwujudkan dalam sebuah pernikahan, bukan hubungan lawan jenis yg tidak halal yg akan lebih banyak menimbulkan dosa drpd mendatangkan pahala. Itu yg dijelaskan haydar pada Lexa. Sesuatu yg tidak pernah dimiliki oleh papa.

Lexa tidak sakit hati lagi. Keping-keping hati Lexa mulai menyatu kembali. Haydar memang mencintai Salma, tp itu bukan berarti akhir segalanya. Hanya Allah pemilik segala takdir, haydar yg mengatakan itu. Haydar juga bilang bahwa bisa jadi Lexa lah nanti yg akan menjadi istri haydar, bukan salma. Dan seandainya pun ia akhirnya menjadi milik Salma, Lexa akan berusaha sekuat hati untuk ikhlas. Salma memang pantas untuknya. Apalgi, Salma juga sahabat Lexa. Jadi kalau kelak dia yg mendapatkan haydar, Lexa akan rela. Lexa akan terus menyayanginya, tapi sebagai saudara saja, karena barangkali itu lebih abadi, kata haydar.

************-------*************

“ Ibu tidak mengira kamu akan menikah secepat ini haydar. Tapi gak papa, anak ibu sudah besar. Sudah 18 tahun. Tapi Ibu bener2 gak habis pikir, kamu akan menikahi 2 gadis sekaligus? Dan kamu diwarisi perusahaan papanya Salma sebagai direktur disana? Duh gusti Allah, karomah apa yg engkau miliki nak? Apakah ini wujud dari sholat malammu atau karomah puasa senin kamis yang engkau istiqomahkan hingga saat ini? Ibu gak tau, tp ibu juga takjub dan bingung nak. Tapi juga senang sekali. Dapat dua menantu yang cantik seperti bidadari, dan hatinya bagai malaikat. Salma dan Lexa, dua gadis yg sama2 cantik dan sama2 pintar. Ibu tidak tahu dulu apa doa Bapakmu sampai kamu bisa seperti ini..”

Haydar tersenyum dan menjawb:“ Gak tau juga nih Bu. Anak ibu ini juga gak tampan, nggak pintar, kok bisa dapat anugerah demikian besar. Haydar malu sama Allah Bu..”.
--------------------------------------------------------------------

“……..dan untuk lulusan terbaik tahun ini dengan perolehan nilai tertinggi, masing-masing jatuh kepada : Alexa Lana Patricia untuk jurusan Bahasa,..Salma Sibli Yusuf untuk jurusan IPA,..dan Haydar Ali Said untuk jurusan IPS. Dan sekaligus berita gembira bahwa mereka bertiga akan menikah setelah acara perpisahan sekolah kita. Haydar Ali Said..akan menikahi dua putri sekaligus dari sekolah kita, yang masing2 adalah lulusan terbaik sekolah kita ini..Ananda Lexa Lana Patricia dan Ananda Salma Sibli Yusuf. Beri tepuk tangan dan sambutan yg meriah untuk ketiga lulusan terbaik sekaligus calon pengantin kita…”

Pak Bambang kepala sekolah SMAN 14 Semarang mengumumkan ketiga siswa terbaiknya.

********--------------------------******

Semarang, 25 agustus 2005
Dear papa Lexa yg skarang Lexa sayangi..

Akhirnya Lexa resmi menjadi istri Haydar yg sah Pa. Lexa sudah halal buat haydar. Kami sudah diikat dalam satu ikatan suci dan agung. Allah dan MalaikatNya yang menjadi saksi. Meski malam ini Lexa sendirian dulu dikamar ini, karena Haydar harus menemani Salma duluan, tapi Lexa iklas Pa. Yang terpenting Lexa menjadi istrinya haydar yg halal dan sah. Itu memang impian Lexa sejak lama. Papa, dimanapun engkau sekarang berada, Lexa minta doa restu dari Papa. Semoga Lexa diberi kekuatan mengarungi rumah tangga ini bersama Haydar dan Saudariku Salma.

Sekarang Lexa tidak akan membenci papa lagi.Justru karena papalah sekarang Lexa menjadi kuat. Terimakasih pa. Awalnya papa memang pergi dari kehidupan Lexa, tapi kepergian papa itu juga yg membuat Lexa menjadi setangguh saat ini. Semoga papa bahagia dimanapun papa berada.

Lexa tutup diary ini ya pa, untuk selamanya. Dan akan Lexa simpan di dalam lemari khusus milik Papa yg Lexa kasih nama..PO BOX : PAPA !

*******************--------*********************
( Sumber: Diedit dari 'Bismillah..Ini Tentang Cinta" )
 Credit : Renungan dan Motivasi : Iftha Istiany Notes





Kamis, 10 Maret 2011

ARIGATO GHOZAIMASU


Di mobil, perjalanan ketika suamiku baru menjemput aku di eki (stasiun) setelah tiba dari perjalanan ke luar kota. “Mas,... tadi abang (panggilan untuk putra sulung kami) jadi latihan karate khan ?”, tanyaku.

“Jadi koog, tau ngga dek, tadi abang waktu mas bangunin tidur siang bilang apa ?. Masa’ abang baru aja melek langsung bilang gini, “Abi, okoshitekurete arigatou nee”. (Abi udah bangunin abang makasih yaa…).

“Anak itu emang udah nihonjin (orang Jepang) banget kog perasaan”, komentar suamiku lebih lanjut. Aku hanya tersenyum, sambil membayangkan si abang.

“Iyaa bener juga, masa’ cuman perkara dibangunin dari tidur siang aja begitu melek masih sempet-sempetnya inget untuk bilang arigato (terimakasih), kataku dalam hati.

Aku lantas teringat kejadian beberapa hari yang lalu sepulang dari kampus membawa sisa camilanku yang tidak habis kumakan di lab. Abang menyambutku sambil bertanya, “Ummi, kore tabete ii ?” (Ummi, ini boleh abang makan ?).

Ketika melihatku mengangguk si abang lantas berkata “Ummi, arigatou nee… oishii mono katte kurete, arigatou” . (Ummi, makasih yaa udah beliin abang makanan enak).

Deeg,… aku tersenyum kecut sambil melihat camilan yang mungkin sudah tidak sampai sepertiga lagi isinya. “Duuh,… kesindir anak kecil niih”, gumamku. Padahal camilan itu bukanlah makanan yang mewah atau enak sekali, dan kurasa cukup sering aku membelikan anak-anak panganan kecil semacam itu. Tapi entah mengapa, apresiasi yang diberikan seakan-akan melebihi apa yang diterimanya. Hhmm…khas nihonjin (orang Jepang).

Memang begitulah salah satu budaya yang baik dari orang Jepang, lidah mereka terasa ringan untuk mengucapkan terima kasih. Jangankan untuk hal-hal yang besar, untuk hal-hal sepele saja orang Jepang mudah sekali memberikan apresiasi.

Contoh yang sering dijumpai adalah bila kita masuk ke sebuah toko, walaupun kita tidak membeli sesuatu, katakanlah hanya sekedar window shopping, saat kita keluar dari toko, pelayan akan langsung memasang senyum dan mengucapkan arigatou gozaimasu (terima kasih) sambil sedikit membungkukkan badannya. Bagi orang Jepang kata-kata “Terima kasih” lazim diucapkan sampai tiga kali. Pertama, disaat mereka menerima barang atau bantuan jasa. Kedua, selang beberapa hari kemudian biasanya orang Jepang akan telfon untuk mengucapkan terima kasih atau pada kasus terhadap orang yang dihormati, biasanya mereka akan mengirimkan kartu pos tertulis ucapan terima kasih. Ketiga, saat jumpa kembali, mereka akan spontan mengatakan “Senjitsu domo arigatou” (Terima kasih yaa untuk kejadian waktu itu).

Duh indahnya,… bila menerima perlakuan baik, mereka akan benar-benar mengingat dan menghargai. Belum lagi kebiasaan mereka berbalas hadiah, bila kita memberikan sesuatu hadiah, jangan heran bila selang beberapa hari mereka akan mengirimkan hadiah balasan sebagai ungkapan terima kasih.

Coba mari kita buka lembaran hadist, sebenarnya Rasulullah SAW manusia agung yang dirahmati Allah, 14 abad yang lampau telah mengajarkan kita untuk berlaku serupa. Sebagaimana tertera dalam sebuah hadist yang bersumber dari Hadath Asy’as ra. Rasulullah SAW bersabda :

“Orang-orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah ialah orang-orang yang paling banyak bersyukur/berterima kasih pada orang-orang “. (Al-Mu’jam Al Kabir Lit-Tabrani).

Lantas mengapa kadang kita masih saja sulit untuk mengapresiasikan kebaikan orang-orang di sekeliling kita?.

Saya teringat keluhan seorang kawan muslimah beberapa waktu yang lalu, “Bu Na, suami saya tuh kalau ke orang lain perasaan gampang banget deh bilang ‘Jazakumulloh khoiron katsiroo” (Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan lebih baik dan banyak). Tapi, misalnya kalo saya abis masak besar untuk menjamu temen-temen suami, trus nyuci setumpuk piring kotor, atau ngebuatin suami teh manis, hhmm… boro-boro ada ucapan singkat ‘terima kasih’, suami bisa noleh sambil senyum aja sudah bagus banget, eeh,…yang ada suami terus aja asyik melototin monitor”. “Eeeh, bukannya saya ngga ikhlas lho yaa… tapi khan seneng aja kalo suami tuh menghargai pekerjaan kita, jadi semangat gitu mau ngapa-ngapain”, tutur kawan tersebut.

Sebenarnya ini bukanlah yang pertama kali saya mendengar curhat yang senada. Memang benar juga, kadang saya amati, para bapak acapkali memandang apa yang sudah dikerjakan isteri adalah kewajiban yang sudah sepatutkan dikerjakan.

Padahal, sebenarnya tidak sedikit hal-hal yang dikerjakan isteri itu adalah justru merupakan kewajiban suami. Hanya karena rasa sayang terhadap suami, atau niatan beramal dengan harapan mendapat pahala yang lebih dari Allah, maka tugas-tugas suami lantas diambil alih, dan bila sudah keterusan, lama-kelamaan suami menganggap itu adalah sudah kewajiban isteri. Sehingga yang dulu awalnya hati selalu bersyukur, ucapan terima kasih senantiasa terucap tatkala isteri membantu meringankan tugas, lambat laun akan terlena, maka hilanglah sudah ucapan-ucapanterima kasih dan do’a “jazakillah khoir” itu.

Coba anda ingat, kapankah terkahir kali anda mengucapkan kata-kata mesra ungkapan terima kasih penuh do’a pada isteri anda?. Bila anda sudah lupa, tunggu apa lagi? alihkan sejenak pandangan anda dari layar monitor ini. Lantas segeralah buzz atau telfon isteri anda, dan katakanlah… insyallah sepulang anda kerja, isteri anda akan menyambut dengan mesra dan penuh kehangatan.


Sumber :Renungan N Kisah Inspiratif

Jumat, 14 Januari 2011

♥●•٠·˙ **Ketika Kurasakan Ia Semakin Dekat ** ˙·٠•●♥

“Ukhti, wajahmu pucat sekali.” Ucap seorang sahabat suatu kali. Dan lagi, badanku panas, katanya. Oya? Aih, sudah berhari-hari seperti ini. Namun, diri ini terus saja mengingkari jika aku memang ‘sedang tidak sehat’. Sudah berapa bulan aku tidak menyambangi tempat praktek dokter ya? Tak tahu lah. Yang jelas, aku malas jika harus berjumpa stetoskop, diukur tensinya, apalagi disodori segepok pil aneka warna untuk ditelan sebanyak tiga kali dalam seharinya. Lebih baik aku memejamkan mata, melayangkan imajinasi ke tempat yang dipenuhi dengan bunga sakura (walah!), tertidur dengan sendirinya (setelah sebelumnya berucap doa), dan ketika terbangun aku mendapati diriku sudah sehat seperti sedia kala. Namun, ternyata… tidak seperti yang aku mau. Justru… badanku semakin remuk-redam keesokan harinya. Lemas, seperti orang kehilangan berliter darah. Makan tak nafsu, tidur tak nyenyak, belajar tak bergairah. Ditambah, sakit perut yang terus menggejala, lambung yang tidak beres… Oh, ada apa denganku, ya Rabb?

Kini, hanya bisa berbaring, menatap langit-langit kamar. Lantas, bayangan-banyangan itu berkecamuk, tergambar, bergonta-ganti seumpama slide yang diputar...

*

Usiaku merangkak menuju 20. Sudah bukan remaja lagi, tentunya. Dalam rentang waktu sepanjang itu, apa yang sudah aku lakukan? Apa yang sudah aku lakukan untuk orangtuaku? Untuk saudara-saudaraku? (kontribusi untuk saudara-saudara di tanah jihad Palestina… Ah, terbersit di pikiran saja aku tidak pernah. Betapa naïf…) Untuk teman-temanku? Untuk agamaku? Bahkan, untuk diriku sendiri? Apa saja yang sudah aku lakukan? Sudahkan aku memenuhi sabda Rasulullah tercinta, ‘manusia yang baik adalah yang memberi manfaat bagi manusia yang lain’? Oh, sungguh patutlah aku dianggap tidak bersyukur jika aku tidak memenuhinya. Bahkan, hamba-hamba-Mu yang cacat itu tekun berkarya dengan keterbatasan mereka. Mengapa aku yang dikaruniai kesempurnaan jiwa dan raga hanya berdiam saja?

Ya Rabb, sungguh sedikit amalku…

Ya Rabb, sungguh banyak dosaku…

Seperti apa kelak wajah ini di hadapan-Mu, ya Rabbi? Betapa malu hamba menghadap-Mu dengan amal yang sedikit ini…

Ah, hamba memang kepunyaan-Mu, ya Rabb. Engkau boleh mengambilku sesuka-Mu, kapan pun Engkau mau. Dengan cara apa pun itu…

Namun, sisi hatiku yang lain berontak. Janganlah Kau ambil nyawaku dulu, ya Rabb. Aku masih memiliki kedua orangtua yang aku harus berbakti kepadanya. Terlebih ummi, yang di telapak kakinya Kau janjikan surga. Jangan Kau ambil nyawaku dulu, ya Rabb. Aku masih belum menyempurnakan separuh din-Mu. Biarkan aku berbakti kepada imamku kelak, kunci surgaku yang kedua. Izinkan aku melahirkan anak-anak calon shalih dan shalihah, calon mujahid dan mujahidah, calon hafidz dan hafidzah. Sebagai ladang amal buatku jika kelak aku tiada.

*

Bibirnya tergetar, namun dipaksanya, meski terbata berkata-kata. Airmata merembes perlahan, kerudungnya basah. Aku tak kuasa lagi menatapnya. Hanya menunduk dalam, lantas ikutan-ikutan meneteskan airmata. Sahabatku tak kuasa lagi membacakan kisah itu, terlebih aku. Hening. Kami sesenggukan di atas lantai keramik yang dingin, suatu pagi di pojokan masjid kampus yang asri.

“Airmata ini tak sebanding dengan airmatanya untuk kita, ukhti…” ucapnya kemudian.

Di penghujung nafas terakhirnya, ia masih sempat menunjukkan cintanya, memanggil-manggil kita, umatnya. “Ya Allah, sungguh dahsyat maut ini. Timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.” Kemudian, ia berbisik kepada Ali dan berpesan, “Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antara kamu.”

“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seribu tebasan pedang adalah lebih ringan daripada kematian di atas tempat tidur.” (HR Ali Bin Abi Thalib).

Insan terkasih itu merasakan sakit yang maha-dahsyat, bagaimanakah dengan hamba yang hanya manusia biasa?

Lihatlah, hamba sungguh manusia biasa. Hamba masih terbata mengeja ayat-ayat-Mu. Masih tertatih merangkak menuju cahaya-Mu. Masih berusaha memahami kalam cinta-Mu. Masih…

Kemudian, sketsa itu seolah ada di kedua lensaku…

Aku berada di tengah-tengah kerumun orang. Mereka bersimbah airmata. Doa-doa dilantunkan, yaasiiin dibacakan. Tak ada lagi jilbab putih yang anggun membingkai auratku. Yang ada justru… kafan putih menyelimuti tubuh yang sudah terbujur kaku. Kemudian, aku diangkat menuju suatu tempat. Di dalam lobang itulah aku diletakkan. Tubuhku dimiringkan, adzan dikumandangkan. Setelah itu, tanah-tanah itu mulai menimbunku. Hingga… permukaan tak terlihat lagi. Aku mendengar bunyi sandal mereka menjauh, semakin jauh. Aku ditinggal sendiri di sini. Dilupakan perlahan-lahan. Semuanya hilang tak berbekas. Tiada lagi alasan untuk berbangga hati atas prestasi, piagam, tropi, atau medali… Siapakah yang akan menemaniku nanti? Seseorang yang datang dengan wajah berseri-seri, ataukah… wajah buruk-beraroma busuk?

Tidak! Tidak, ya Allah…

Aku takut, ya Rabb. Jika menjelang ajalku, aku tak lagi memegang teguh iman Islam dalam jiwaku. Aku meragu, ya Rabb. Jika bibir ini sulit berucap syahadat di penghujung nafas terakhirku. Aku berharap, Ya Rabb. Engkau akan mengundangku dengan kalimat mesra-Mu, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.”

Kau hadirkan aku ke dunia dalam keadaan fitrah, maka aku meminta kematian yang suci pula, ya Rabb. Ingin aku menghadap-Mu ketika kening ini menyentuh sajadah, dengan air wudhu yang masih menetes. Bercampur dengan airmataku. Airmata rindu perjumpaan dengan-Mu…

Senyuman tersungging di bibirku

Wangi kesturi menguar dariku

Engkau dalam pikiranku

Quran di lidahku

As-sunnah di hatiku

Sejuta malaikat menyambut

Al-jannah terbuka untukku

Jadikan aku satu

Dari para bidadari syurga-Mu

Aih, indahnya kematian itu…

Maka ya Allah, jadikanlah cintaku kepada-Mu sebagai satu-satunya cinta yang mengantarku menutup mata. Maka ya Allah, jadikanlah rinduku kepada Rasul-Mu sebagai satu-satunya rindu yang bergelora dalam jiwa hingga diputuskan nyawa. Maka ya Allah, dengan penuh damba dan cinta, kabulkanlah...

Entah besok, lusa, minggu depan, tahun depan, atau nanti.. setelah ini. Ia ada di depanku. Menghadang. Satu depa, satu jengkal, atau sepersekian millimeter dariku. Ia ada. Mengintai. Maka, bersiaplah! Bersiagalah!

Ketika kurasakan ia semakin dekat… MAUT!

Biarkan aku mengadu, wahai Rabb-ku

Meski kelu bibirku

Telah payah hamba

Menjejak di gersang dunia

Menapak jalan semu dan fana

Beribu juta laksa coba mendera

Entah… telah lelah langkah

Kucoba meghapus sisa putus asa itu

Berseru:

“Mengapa perjuangan itu pahit?”

“Karena… surga itu manis.”

Aku:

Setitik yang kecil

Sedzarrah yang kerdil

Mengaduh dalam semesta keluh

Berharap menemukan cinta-Mu

Di labirin sunyi kalbuku

Terprasasti

Di sini aku masih mendaki

Mendaki rinduku

Mendaki cintaku

Ke haribaan-Mu



Sumber : •٠·˙ Di Atas Sajadah Cinta ˙·٠• (http://situseni.com/index.php/soliloqui/240-ketika-kurasakan-ia-semakin-)


Rabu, 05 Januari 2011

Pelajaran Hidup


♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Saat kau berumur 1 tahun dia menyuapi dan memandikanmu, sebagai balasannya “KAU, MENANGIS SEPANJANG MALAM.” Saat kau berumur 2 tahun dia mengajarimu bagaimana caranya berjalan, sebagai balasannya “KAU KABUR SAAT DIA MEMANGGILMU.”

Saat kau berumur 3 tahun dia memasakkan semua makananmu dengan penuh kasih sayang, sebagai balasannya “KAU BUANG PIRING BERISI MAKANAN KE LANTAI.”Saat kau berumur 4 tahun dia memberimu pensil warna, sebagai balasannya “KAU CORAT-CORET DINDING RUMAH DAN MEJA MAKAN.”Saat kau berumur 6 tahun dia mengantarkanmu pergi ke sekolah, sebagai balasannya “KAU BERTERIAK NGGA MAU.” Saat kau berumur 7 tahun dia memberikanmu bola, sebagai balasannya “KAU LEMPARKAN BOLA ITU KE JENDELA TETANGGA.”

Saat kau berumur 8 tahun dia membelikanmu ice cream, sebagai balasannya “KAU TUMPAHKAN HINGGA MENGOTORI SELURUH BAJUMU.”

Saat kau berumur 13 tahun dia membayar mahal untuk Les private dan Mengaji, sebagai balasannya “KAU SERING BOLOS DAN JARANG BELAJAR.”

Saat kau berumur 14 tahun dia mengantarkanmu dan teman-temanmu ke bioskop, sebagai balasannya “KAU MEMINTA DIA DUDUK DI BARIS YANG LAIN KARENA MALU.”

Saat kau berumur 15 tahun dia melarangmu melihat acara khusus orang dewasa, sebagai balasannya “KAU TUNGGU DIA SAMPAI KE LUAR RUMAH.” Saat kau berumur 16 tahun dia menyarankanmu untuk memotong rambut, sebagai balasannya “KAU KATAKAN BAHWA DIA GA TAHU MODEL.”

Saat kau berumur 17 tahun dia membayar biaya sekolah, sebagai balasannya “KAU GUNAKAN UANGNYA UNTUK FOYA FOYA DAN MABUK MABUKAN.” Saat kau berumur 18 tahun dia ajarkan kau mengemudi mobil, sebagai balasannya “KAU PAKAI MOBILNYA SETIAP ADA KESEMPATAN TANPA PEDULI KEPENTINGANNYA.”Saat kau berumur 18 tahun dia sedang menunggu telepon yang penting, sebagai balasannya “KAU PAKAI TELEPON SEMALAM SUNTUK.”

Saat kau berumur 18 tahun dia menangis terharu karena kau lulus SMU, sebagai balasannya “KAU BERPESTA DAN MABUK MABUKAN DENGAN TEMANMU SAMPAI PAGI.” Saat kau berumur 19 tahun dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarkanmu ke kampus pada hari pertama masuk, sebagai balasannya “KAU MINTA DITURUNKAN JAUH DARI PINTU GERBANG AGAR KAU TIDAK MALU DI DEPAN TEMAN-TEMANMU.”Saat kau berumur 20 tahun dia bertanya dari mana saja seharian ini,Apa sudah sholat? sebagai balasannya “KAU MENJAWAB, ‘AH IBU CEREWET AMAT.’”

Saat kau berumur 21 tahun dia bertanya ingin seperti apa karirmu di masa depan, sebagai balasannya “KAU BERKATA, AKU TIDAK INGIN SEPERTI IBU.’”

Saat kau berumur 23 tahun dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi, sebagai balasannya “KAU TIDAK USAH DATANG KARENA SAYA HANYA LULUS D3.”

Saat kau berumur 25 tahun dia memelukmu dengan haru saat kau diterima bekerja, sebagai balasannya “KAU HABISKAN UANG GAJIMU UNTUK TEMAN2 TANPA TERPIKIR UNTUK MEMBANTUNYA.”

Saat kau berumur 30 tahun dia membantu membiayai pernikahanmu, sebagai balasannya “KAU PINDAH KE KOTA LAIN YANG JARAKNYA LEBIH DARI 500 KM.”

Saat kau berumur 31 tahun dia menitipkan uang warisan hasil penjualan rumah, sebagai balasannya “KAU PAKAI UNTUK MODAL USAHA TANPA MEMBERITAHUNYA”

Saat kau berumur 32 tahun dia menelepon untuk memintamu untuk mengantarkan ke undangan salah satu kerabatnya, sebagai balasannya “KAU JAWAB, ‘IBU SAYA SIBUK SEKALI.’”

Saat kau berumur 50 tahun dia terbaring sakit sehingga perlu perawatanmu, sebagai balasannya “KAU BACA SEBUAH ARTIKEL TENTANG PENGARUH NEGATIF ORANG TUA YANG MENUMPANG TINGGAL DI RUMAH ANAK-ANAKNYA.”

DAN HINGGA SUATU HARI DIA MENINGGAL DENGAN TENANG DAN TIBA-TIBA KAU TERINGAT BANYAK HAL YANG BELUM KAU LAKUKAN UNTUK DIA, PERASAAN BERSALAH DATANG MENGHANTAM HATIMU TANPA AKHIR.** 


Sumber : Renungan N Kisah Inspiratif

Rabu, 29 Desember 2010

Kisah Nyata yg Mengharukan : Wanita itu Ibuku

Ini adalah sebuah kisah lama yang patut dibaca dan direnungkan berkali- kali betapa baiknya ibunda kita, bagaimana besarnya pengorbanan ibunda kita dstnya....

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, tahun berapaan udah lupa. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic. Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gajinya pun lumayan.Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor.

Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting.

Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan routine layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya.

Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. "Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan." jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.

Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan di rumah.

Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah.

Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.

Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang ibupun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. "Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi". Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke supermarket.

Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek.

biar bagaimanapun ibu kita tetaplah ibu kita....sampai ajal menjemput tak ada kata mantan ibu maupun mantan anak...smg crt ini bermanfaat.....


Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke dalam media cetak dan elektronik


Sumber : di atas sajadah cinta

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...